[Fanfiction] Revolution

Revolution

alphastee is bringing a REVOLUTION to ruining your minds. Staring Kwon Yuri (Yuri SNSD), Kwon Jiyong (G-Dragon Bigbang), Choi Seunghyun (TOP Bigbang), Jung Hoseok (J-Hope Bangtan Boys), Wu Yi Fan (Kris EXO), and other cameos. Life-Tragedy-Crime-Politic genred fanfiction. NC-17-ed One Shoot.

I’ll defeat the rules if it’s unfair for me


Bunyi desingan peluru memecah malam yang tenang itu. Darah, darah, dan darah yang dapat terlihat di mata Yuri kecil dari balik pelukan ibunya. Di dekat jasad ayahnya yang baru saja tewas tertembak terdapat Jiyong, kakak Yuri yang pingsan menerima pukulan dari orang-orang berbaju hitam itu.

Darah tuan Kwon mengalir sangat banyak hingga mencapai tempat Yuri dan ibunya yang berjarak cukup jauh. Yuri semakin terisak saat merasakan cairan kental tersebut, sementara ibunya hanya menangis dalam sunyi. Darah itu bahkan telah sukses membuat baju tidur Yuri yang putih bersih menjadi berombre merah darah. Sementara pria-pria berbaju hitam tersebut memasukkan senjata mereka dan salah seorang dari mereka berkata, “Ayo kita pulang. Tugas kita telah selesai,” dengan nada yang lebih dingin dari es.

Dan Yuri mengenalnya.

Pria itu, yang tingginya tidak normal (dia terlalu tinggi untuk umur 27 tahun), yang memiliki suara lebih dingin dari es, yang baru saja menembak mati ayahnya di depannya. Dia, Kevin Wu, sahabat dekat ayahnya. Orang yang sudah dianggap keluarga oleh keluarga Kwon. Lelaki dewasa yang telah disayanginya setelah ayahnya.

Malam itulah Yuri, nyonya Kwon, dan Jiyong mulai membenci seorang Kevin Wu dan semua yang berhubungan dengan pemerintah.

————

“Yuri! Ppalli ireona!”teriak nyonya Kwon dari dapur. Yuri menggeliat di atas kasur berseprai merah bermotifnya. Dengan segan dia bangkit dari tidur nyenyaknya dan melihat ke arah jam merah darahnya untuk mengecek waktu. 45 menit sebelum bel masuk sekolah berbunyi.

“Ukh,”erang gadis berambut panjang tersebut. Ia merenggangkan badannya yang tertidur sejak 8 jam yang lalu.

“Yuri! Ireona! Ppalli!”teriakan ibunya terdengar lagi. Dia masih belum sadar sepenuhnya dengan teriakan dan erangan yang mengiringi menyahut teriakan wanita 40 tahun yang telah melahirkannya itu.

“Ne, eomma! Chakkaman!”

————

Yuri dan kakaknya, Jiyong, dengan diam menyantap sarapan yang disediakan nyonya Kwon sebelumnya. Sementara nyonya Kwon hanya menatap anak-anaknya sambil tersenyum.

“Eomma~ nanti aku mungkin pulang telat. Hari ini ada pertandingan sepak bola and I’m going to watch,”suara Jiyong memecahkan keheningan pagi itu. Yuri menatap kakaknya yang lebih tua 4 tahun darinya itu dengan tatapan dingin.

“Nonton sepak bola atau melawan pemerintah eoh?”tanya Yuri dingin. Jiyong tiba-tiba tersedak karena adiknya itu tahu apa yang sesungguhnya akan ia lakukan.

“Yuri-yaa!”teriak Jiyong sambil menjitak adiknya, yang tidak mungkin berhasil karena gerak refleks Yuri yang tinggi. Turunan almarhum ayahnya.

“Kau benar-benar ingin melawan pemerintah, Jiyongie?”tanya nyonya Kwon dengan nada khawatir. Yang ditanya hanya bisa mengangguk sambil menyantap sarapan.

“Berhati-hatilah. Jangan lupa gunakan masker. Jika wajahmu sampai kelihatan oleh budak-budak pemerintah itu, kamu akan bernasib sama dengan ayahmu dulu,”nasihat ibunya. Seketika wajah nyonya Kwon menjadi murung mengingat kejadian 10 tahun yang lalu.

“Ibu, jangan sedih. Suatu saat akan ada masa revolusi itu. Percaya padaku,”ujar Yuri dengan nada yang masih sangat dingin. Nampaknya kejadian 10 tahun yang lalu –penembakan ayahnya di depan keluarga Kwon- selain berhasil merenggut nyawa ayahnya juga berhasil merebut semua perasaan Yuri. Yang tersisa hanyalah rasa dendam dan benci pada pemerintah.

Tempat tinggal Yuri memang sudah kacau sistem pemerintahnya. Para rakyat dibiarkan melarat, sementara para petinggi negara hidup bahagia. Siapa yang memberontak barang sebesar biji pun harus dihukum mati. Itulah hukum yang berlaku di sana. Banyak orang yang menginginkan kesejahteraan hingga rela membela yang salah dan menjadi tentara ataupun polisi. Rakyat yang tidak sudi membela pemerintah menyebut para polisi dan tentara sebagai budak-budak negara.

Dan akulah yang akan melakukan revolusi itu.

————

“Yuri-ya, oppa mau melawan para cecurut itu. Jika oppa tidak kembali, jaga eomma ya. Oppa yakin kamu bisa, nan yeoppo dongsaeng~”pinta Jiyong saat pulang sekolah. Dengan hangat Jiyong memeluk Yuri yang mungkin akan menjadi pelukan terakhir Jiyong.

“Yaapapun caranya, kau harus kembali. Jangan menyusul appa..,”gumam Yuri dalam pelukan kakaknya. Jiyong hanya bisa diam lalu mengecup pelan puncak kepala Yuri.

“Saranghae, nan dongsaeng. Bilang pada eomma bahwa aku mencintainya juga. Ucapkan juga perminta maafanku, ne?”lirih Jiyong.

“Jangan berkata seakan kamu nggak akan kembali,”

————

Sejak pulang sekolah tadi hingga selarut ini Jiyong belum juga kembali. Yuri menunggu di rumahnya sendirian. Nyonya Kwon juga belum kembali dari pekerjaannya. Ini aneh.

Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, namun kedua anggota keluarganya belum juga ada yang kembali. Yuri mulai cemas. Jelas lah harus cemas, selain mereka berdua adalah keluarga Yuri, keberadaan para budak pemerintah juga menambah alasan cemas yang Yuri rasakan.

Setengah 12, terdengar ketukan di rumah Yuri. Memecahkan keheningan yang melanda Yuri. Bergegas Yuri membukakan pintu, berharap itu ibunya atau Jiyong. Namun yang dihadapannya adalah orang yang telah membunuh ayahnya, Kevin Wu.

“Annyeong, Yuri..,”sapa Kevin dengan suara yang sedikit bergetar dibalik nada dinginnya. Yuri hanya mendengus.

“Untuk apa kau kemari? Membunuh semua keluarga Kwon dengan pistol yang sama dengan yang kau gunakan untuk membunuh Mr. Kwon hah?”desis Yuri sama-sama dinginnya. Bahkan orang yang mendengarnya membutuhkan jaket tambahan di musim dingin ini saking dinginnya.

“Aku… kesini… membawa 2 kabar duka. Pertama kakakmu, Jiyong, dengan bodoh yang tidak pernah berubah dari yang kuingat tidak menggunakan masker untuk menutup wajahnya saat melawan polisi dan tentara tadi siang. Ia berhasil kabur bersama temannya saat kekacauan perlawanan tadi terjadi, namun dia terbunuh oleh tombak yang dilemparkan temannya yang berkhianat. Aku yang mengejarnya melihatnya. Segera kutembak teman kakakmu itu dan memasukkan jasad keduanya ke dalam mobilku dan pergi,”cerita Kevin dengan nada yang makin bergetar. Yuri hanya bisa shock dan yakin bahwa itu kenyataan. Dia kenal bahwa sosok Kevin hanya akan membunuh dengan pistol yang pelurunya telah ia bubuhi racun terlebih dahulu.

“L..lalu berita kedua?”tanya Yuri dengan nada bergetar. Kevin menghela nafas.

“Ibumu…. di kantor ibumu ada penyergapan besar-besaran. Semua laki-laki dibunuh, yang perempuan dinikmati,”Yuri sedikit mual membayangkan kata dinikmati itu. “Tapi ibumu memberontak. Lalu ia dilempar ke luar jendela lalu ditembak selama masih di udara. Aku kebetulan ada disana. Namun aku tidak mengurusi wanita –karena aku masih setia pada istriku di rumah-. Nyonya Kwon… Dia tewas…,”Kevin selesai membawa kabar duka itu. Jauh di lubuk hati Yuri, ia mengira Kevin lah yang membunuh ibu dan kakaknya. Tetapi saat melihat mata Kevin yang hampir berair dan tidak menyiratkan satupun kebohongan, ia tau bukan Kevin lah yang membunuh mereka berdua. Hati Yuri kini sama seperti Kevin, sama-sama hancur.

Yuri tidak tahu harus membalas semua perkataan Kevin dengan apa-apa.

Melihat Yuri hanya diam, Kevin melanjutkan, “soal ayahmu, 10 tahun yang lalu, aku minta maaf. Aku ingin sekali memberontak, namun Mr. Choi berkata jika aku memberontak maka….”Kevin tidak mampu melanjutkan kata-katanya dan membuat Yuri makin penasaran.

“Aku harus membunuh semua orang bermarga Kwon.”tubuh Yuri serasa mendidih mendengar penjelasan Kevin. Ia tahu Kevin tidak berbohong. Kevin yang ada di hadapannya adalah Kevin Wu yang selama ini dia kenal. Kevin yang baik dan hangat. Kevin yang tidak tegaan.

“Aku lebih tidak sanggup membunuh semua bermarga Kwon. Jadi malam itu aku…,”lanjut Kevin yang segera dipotong oleh Yuri.

“Membunuh ayah di hadapanku dan keluargaku,”

————

Pagi ini, setelah pemberontakan oleh mahasiswa –yang berasal dari universitas Jiyong- dan penyergapan kantor redaksi koran –tempat kerja nyonya Kwon, daerah itu semakin kacau. Sekolah dihancurkan, kantor-kantor dihancurkan, semua bangunan milik rakyat diratakan dengan tanah. Ada yang terjebak dalam reruntuhan gedung, ada yang tewas tertimpa material bangunan, dan ada pula yang melarikan diri dan bersatu. Itulah Yuri dan beberapa orang yang berniat mengadakan revolusi.

Kelompok revolusi itu bersembunyi di bawah reruntuhan tanah. Mereka melepas chip di tubuh mereka yang dipasang sejak mereka lahir lalu menghancurkannya di tempat yang jauh dari persembunyian mereka. Semua saling bahu membahu untuk mengadakan revolusi ini. Yuri yang mantan anak seorang budak pemerintah –yang wajib mempelajari ilmu bela diri dan senjata- mengajarkan kelompok itu cara-cara bela diri dan menggunakan senjata. Selama bertahun-tahun mereka bertahan hidup di bawah tanah selama bertahun-tahun. Kevin diam-diam menjadi pemberontak negara dan membantu para revolusioner. Dan saat Yuri memangkas rambut panjangnya suatu saat nanti (Yuri adalah pemimpin revolusioner itu) berarti revolusi segera dilakukan.

————

“Pemimpin!”panggil seseorang yang sudah akrab dengan Yuri. Yuri yang sedang terduduk di bukit untuk memantau keadaan kota  menoleh.

“Oh, Hope. Kau kenapa kesini?”tanya Yuri dengan nada dingin namun santai. Hope mengambil tempat di sebelah kanan Yuri.

“Mm.. Menemanimu. Bolehkan?”tanpa menunggu izin dari Yuri, Hope –laki-laki yang mendatangi Yuri dan bernama panjang J-Hope (tidak ada yang tau nama aslinya)- merebahkan tubuhnya di rerumputan. Belum ada 5 menit dia berbaring, dia sudah hilang ke alam mimpi –terbukti dengan snoozenya yang sangat keras. Yuri memandang pria di sebelahnya, mengingat pertemuannya dengan J-Hope, pria misterius yang mengenalkan tempat persembunyian kepada Yuri dan para revolusioner. Setelah memeriksa tempat itu dan J-Hope, para revolusioner percaya bahwa J-Hope di pihak Revolusioner.

Yuri juga mulai merasa lelah. Dia pun ikut merebahkan dirinya ke rerumputan.

“Yuri-ah,”panggil Hope. Yuri terkejut karena ternyata Hope tidak benar-benar tertidur. Yuri menoleh menatap wajah J-Hope yang menatapnya intens.

“Hmm?”

“Kau percaya reinkarnasi?”

————

Sementara para revolusioner bersembunyi….

“DASAR TIDAK BECUS! MENCARI MEREKA SAJA TIDAK BERHASIL! KAU KERJA ATAU MELAMUN HAH?!”bentak Mr. Choi kepada anak buahnya, termasuk Kevin.

“Mereka benar-benar penyembunyi yang baik, Mr. Saat kami menemukan markas mereka, mereka segera pindah tanpa jejak. Begitu berulang-ulang,”jawab Kim Myungsoo, juru bicara para budak pemerintah. Mendengar jawaban Myungsoo, Mr. Choi hanya bisa mendengus kesal dan menyuruh mereka semua keluar ruangannya.

“Aku yakin suatu saat mereka akan menghancurkanku. Bagaimana pun caranya mereka harus lenyap sebelum hari itu tiba!”bentaknya entah pada siapa. Jelas dia sangat kesal dengan kehadiran para revolusioner itu.

Dan Mr. Choi sial, karena Kevin mendengar bentakan Mr. Choi. Dia terburu-buru pergi ke luar kota dimana chipnya tidak akan terdeteksi dan mengontak Yuri tentang perkataan Mr. Choi.

Di dalam mobilnya, ia berfikir betapa kasihannya Mr. Choi. Dia tampaknya punya banyak pengikut, namun kenyataannya adalah tidak ada satupun dari pengikutnya yang tulus. Mereka telah berkhianat dalam hati mereka. Termasuk Kevin dan Myungsoo, pengikut kepercayaan Mr. Choi.

Dalam hati mereka, mereka mendukung tindakan para revolusioner. Mereka masing-masing bertekad ikut berkhianat saat revolusi itu terjadi. Dan saat itulah revolusi benar-benar berhasil karena Mr. Choi tidak memiliki satupun pengikut setia.

————

Mendengar apa yang diberitakan Kevin, Yuri tersenyum sinis dan bergegas kembali ke tempat persembunyiannya.

Ia akan memotong rambutnya di depan para revolusioner, dan saat itulah revolusi dimulai.

————

Pagi itu belum sepenuhnya disinari mentari pagi, namun para revolusioner sudah bergerilya melaksanakan revolusi. Di depan mereka berdiri tegap seorang wanita berambut pendek, Yuri. Di belakangnya berdiri laki-laki berwajah jenaka, J-Hope. Tidak sadar mereka telah sampai di depan gedung pemerintahan. Para budak pemerintah dengan enggan melawan para revousioner. Satu per satu dari mereka menanggalkan seragam mereka dan berganti baju revolusioner hingga semua budak pemerintah berada di kubu revolusioner. Mr. Choi yang mengamati dari atas terkejut melihat kelakuan para pengikutnya. Myungsoo, Kevin, Junhyung, Daehyun, dan semua pengikut kepercayaannya berbalik kubu menjadi revolusioner. Para revolusioner memaksa masuk gedung Mr. Choi dan tentu saja berhasil tanpa perlawanan berarti dari penjaga. Mr. Choi yang semakin takut segera kabur ke atas gedung.

Para revolusioner dan pemberontak memilih Yuri, Kevin, dan J- Hope untuk mengejar Mr. Choi. Selama mengejar J-Hope menyembunyikan sebuah seringai dan senjata api pendek di balik bajunya.

Mereka tiba di atas gedung berlantai 7 tersebut. Mr. Choi telah berdiri di tengah rooftop tersebut dengan menyeringai.

“Oh, my Hope~ Selama ini kau bersama mereka?”sapa Mr. Choi pada J-Hope. Yang disapa hanya menyeringai, lalu mengeluarkan senjata miliknya yang dia sembunyikan selama ini.

“Ah, Mr. Choi. Aniya… My brother, Choi Seunghyun. Ya begitulah seperti yang kau lihat,”sahut J-Hope sambil perlahan berjalan menuju Mr. Choi lalu merangkulnya brotherly.

Yuri dan Kevin yang melihat adegan itu hanya tertegun.

“Hope-ah? Kau…,”air mata Yuri yang sudah lama tidak mengalir selama bertahun-tahun pun keluar dari bola mata indahnya. Dia merasa dikhianati oleh Hope, yang diam-diam dia cintai.

“Kau memang bodoh. Dari dulu akulah pengkhianat kaum revolusioner. Aku diam-diam yang memberitahukan tentang kaum revolusioner. Aktingku bagus kan? Dan aku kini hadir untuk membunuh pemimpin revolusioner,”jelas J-Hope sambil senyum yang makin menyeringai. Dia mengarahkan moncong pistolnya ke arah Yuri. Yuri tidak mampu bergerak barang 1 mm pun. Dan saat itulah peluru meluncur dengan sangat cepat dari senjata milik J-Hope menuju Yuri.

Yuri menatap peluru itu. Lalu menutup matanya saat peuru itu kira-kira berjarak 1 meter dengannya. Dengan gerakan cepat, Kevin melindungi Yuri dengan punggungnya. Kevin lah yang terkena peluru itu, yang tepat bersarang di jantungnya melalu bagian belakang.

“Protect yourself…. I’m sorry,”itulah kalimat terakhir Kevin sebelum dia terjatuh di bawah kaki Yuri yang terpaku. Tapi bukan Yuri namanya jika ia terus menerus terpuruk. Sebelum J-Hope menembaknya sekali lagi, ia segera mengambil pistol milik Kevin dan menembaknya berkali-kali tepat ke arah J-Hope.

“Hope, mianhe….,”gumam Yuri sambil menembak J-Hope. Ia berusaha menahan air matanya agar tidak mengalir lagi.

J-Hope yang limbung jatuh ke belakang. Ia tewas seketika.

Mr. Choi yang melihat kejadian itu merebut pistol J-Hope dan mengarahkannya ke arah Yuri. Begitu pula sebaliknya. Yuri mendekat ke arah Mr. Choi tanpa ragu. Dia dikuasai dendamnya sejak kecil.

“Kau membunuh makhluk-makhluk tak bersalah. Kau menyuruh anak buahmu, Kevin, untuk membunuh sahabatnya dengan paksaan. Kau membuat banyak mahasiswa kehilangan nyawanya. Kau menyakiti para wanita, memperlakukan mereka seperti pelacur, lalu kau bunuh mereka. Kau….pembunuh..,”desis Yuri. Kali ini dia tidak mampu menahan air matanya. Mr. Choi tenang saja melihat Yuri. Samar-samar ia mendengar derap kaki. Buru-buru dia menembak Yuri dengan jarak dekat berkali-kali. Yuri tidak begitu saja menyerah. Saat ia terjatuh , ia sempat menembak Mr. Choi tepat di jantungnya. Keduanya sama-sama jatuh.

Yuri menatap jasad Kevin dan J-Hope bergantian. Air matanya mengalir semakin deras saat melihat keduanya. Ia mengingat semua yang pernah dikenalnya selama hidup. Ayahnya, Ibunya, Jiyong, para Revolusioner..

Terakhir yang dia ingat adalah percakapannya di bukit bersama J-Hope. Yang dia ingini sebagai kejujuran dari J-Hope.

“Kau percaya reinkarnasi?”tanya J-Hope. Yuri hanya mengangguk pelan dan tersenyum.

“Aku juga. Jika aku direinkarnasi, aku ingin menjadi penyanyi, rapper. Aku ingin menjadi idol. Lawak ya, orang derp sepertiku menginginkan menjadi idol,”Hope tertawa pelan.

“Menurutku itu keren. Jika aku direinkarnasi, aku hanya ingin semua yang aku kenal hidup bahagia tanpa tekanan seorang diktator seperti negeri ini,”ujar Yuri.

“Hanya itu?”

“Ah, sama satu hal. Aku ingin berbahagia, bersama keluargaku. Appa, eomma, Jiyong Oppa…. Dan juga menikahi satu pria yang aku cintai sekarang dengan bahagia,”

“Siapa pria itu?”

“Kamu, Hope. Eung, saranghae…,”kata Yuri. J-Hope tersenyum tulus dan memeluk Yuri dalam keadaan tiduran.

“Aku senang mendengarnya. Nado saranghae, Yuri-ah….”

————

A few years later…

“Yul!”panggil seorang gadis kepada gadis berambut panjang di depannya.

“Oh, Yoona! Ada apa sampai datang ke kamarku?”sahut si rambut panjang ke gadis yang dipanggil Yoona tadi.

“Udah tahu ada rookie baru nggak? Dari iBighit ent?”tanya Yoona semangat.

“iBighit yang menaungi 2AM?”tanya si gadis rambut panjang penuh rasa penasaran.

“Iyalah, Kwon Yuri pabooo. Memang mana lagii,”geram Yoona.

“Memang siapa rookie tersebut?”sahut gadis yang dipanggil Yuri.

“Bangtan Boys! Nih lihat foto membernya,”Yoona menyodorkan sebuah album kepada Yuri. Yuri mengambilnya dan melihat-lihat isinya.

“Ah, maknaenya ganteng banget. Yang namanya Jungkook. Tapi masih gantengan Seunggi oppa dong,”ujar Yoona sambil menunjuk-nunjuk sebuah foto namja tampan. Yuri tidak tertarik dengan si maknae tampan yang ditunjuk Yoona, namun pada foto orang di dekatnya.

“Dia siapa? Posisi rapper dan dance? Yang ini nih,”tunjuk Yuri pada foto seorang namja yang lain.

“Oh, namanya dia Jung Hoseok. J-Hope. Dia mood makernya Bangtan. Keren kan?”

Yuri hidup bahagia dengan grupnya, Girls Generation. Choi Seunghyun, sekarang sebagai TOP, rapper karismatik Bigbang bersama Kwon Jiyong atau G-Dragon. Dan J-Hope sekarang menjadi rookie dengan grup hiphop Bangtan Boys dengan nama panggung J-Hope sebagai rapper dan dancer.

REVOLUTION, 2014-05-09, the end

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s