[Fanfiction] Behind the Light

Behind the Light

 

BEHIND THE LIGHT by alphastee. Starring Kim Nari (NARI WA$$UP) and Kim Hansol (HANSOL TOPP DOGG). With some cameo from WA$$UP & TOPP DOGG’s members and OC’ Team. One Shoot, PG-17, Life, Tragedy, Hurt.

DISCLAIMER
Alph only own the cover and the story. Cast belonged to God, their family, their agency, and their fans.

NOTE
Everything was manipulated here. Sorry if it even not a good story. Please don’t take without credit and thank you for not being a side-reader. Thank you~

××××××

Because light always followed by shadow

××××××

αlpha Μystic Τemptress©

One two three four five six seven eight. Ayo, ulangi dari awal!”ucap Kang songsaengnim sambil memperhatikan gerakan kami. Entah sudah keberapa kalinya kami melakukan choreo yang sama. Tubuhku sudah mulai bermandikan keringat. Lelah di kaki dan bagian belakang tubuhku sudah mulai menyerangku. Tetapi aku menolak keinginan tubuhku untuk sedetik saja beristirahat.

Well done! Great job!”teriak Kang songsaengnim sambil mematikan lagu dari i-Mac di ruang latihan ini. Aku beserta teman-temanku langsung terduduk dan merenggangkan badan.

“Ah, jinjja. Finally it’s done“jerit Jinjoo eonnie yang duduk di sebelahku. Tubuhnya sudah tergeletak di lantai kayu.

“Berapa kali kita latihan?”tanya Jiho yang sudah di pojok ruangan sambil menikmati minumannya.

“10,”balas Hansol. BYUNGJOO-YA! GANTIAN DONG MINUMNYA!” lanjutnya sambil merebut minum dari tangan Byungjoo.

ANDWAEYO, HYUNG!“balas Byungjoo sambil mencoba berebut botol minuman. Mereka terus berebut minuman dan menciptakan keributan.

Dasar anak kecil.

“Eum, Byungjoo oppa. Kamu bisa minum punyaku, kok. Aku belum buka,”Ji Ae menyodorkan botol minuman bersegel miliknya. Kalau tidak salah, Da In pernah cerita kalau Ji Ae suka Byungjoo. Dan si namja berambut putih krim itu (read : Byungjoo) juga suka Ji Ae, menurut kabar burung sih.

How about you? Kamu belum minum apa-apa, kan? Nan gwaenchanha,”balas Byungjoo menolak minum dari JiAe. Lalu yang terdengar berikutnya adalah percakapan orang yang sedang kasmaran.

“Kim Nari,”panggil Kang songsaengnim dengan suara formal. Suara yang sukses membuatku -dan 2 orang yang sedang kasmaran tadi- terdiam.

Am I do something wrong?

Ne, songsaeng?“jawabku sambil mengangkat tanganku takut-takut.

As always, you learn this choreo faster than the other. And do the choreo correctly. I’m proud of you,” puji Kang songsaengnim yang sukses membuatku bernafas lega.

Gamsahamnida,“balasku menunduk. Teman-temanku bertepuk tangan dan terus menerus mengucapkan selamat.

It’s not only Nari who did it perfectly. All of you did it,“tepuk tangan kembali menggelegar di ruangan 10×6 meter ini.

But,”seketika Kang songsaengnim mengeluarkan suara serius lagi. Kami semua langsung terdiam mendengarnya.

Namun suara tepuk tangan masih terdengar walau samar-samar.

“KIM HANSOL! DIAM!”bentakan Kang songsaengnim sukses menghentikan tepukan tangan Hansol.

There’s person who keep do a wrong move,“kami semua menelan saliva kami. Aura kegugupan langsung terasa dengan jelas di sini.

Kang songsaengnim berjalan menuju ke gerombolan wizard (Hansol, Byungjoo, Jiho, dan Hojoon). Mereka berempat yang asyik mengobrol seketika terdiam.

“Kim Hansol, berdiri!”perintah Kang songsaengnim tegas. Hansol buru-buru berdiri sambil tersenyum lebar.

“Hehehehehe,”tawanya pelan.

“Kamu sudah tahu kesalahanmu dimana?”

Ne, songsaengnim. Jeosonghamnida,“ucap Hansol sambil terus tersenyum lebar. Detik kemudian sebuah buku sudah memukul kepala Hansol.

Your punishment,“ujar Kang songsaengnim lalu kembali ke depan.

“Baiklah anak-anak. Latihan hari ini selesai. Besok lusa kita latihan lagi di jam yang sama. See you soon.”

××××××

“KAMU INI! SUDAH KUBILANG AKU TIDAK SELINGKUH!”

BULLSHIT! LALU GADIS ITU SIAPA?”

“DIA HANYA TEMAN KANTOR. TIDAK BISAKAH KAMU BERHENTI BERBURUK SANGKA?!”

“BERBURUK SANGKA?! BERBURUK SANGKA KATAMU?! AKU MELIHATNYA DENGAN MATAKU SENDIRI!”

“ASTAGA, KIM HYERAAA. YANG KAMU LIHAT ITU SALAH! AKU…,”

“HALAH! ALASAN! SUDAH JELAS AKU LIHAT KAMU BERMESRAAN DENGAN TEMAN KANTORMU ITU! KAMU MAU JELASKAN APA LAGI?!”

“KAM…,”

“APA?!”

Eomma, Appa, please stop….

××××××

“Woah, Nari-ya! Tumben jam segini sudah nongkrong di sini!”aku menoleh dan mendapati Minwoo datang. Aku hanya mendecak kemudian menikmati vodkaku kembali . Pertengkaran Eomma dan Appa tadi masih membekas di otakku.

“Ck, begitu ya kamu sekarang,”sindir Minwoo sambil merangkul pundakku. Aku mengelak dari rangkulannya namun yang ada hanya tubuhku yang mendekat ke tubuh tegap Minwoo.

“Hei, wanna have fun tonight? I’ll make you forget everything,”ajak Minwoo. Tanpa menunggu aku mengangguk, dia langsung menarikku keluar club ini dan mengajakku ke apartement miliknya.

Tsk, he is ‘on’ right now.

Tak apalah, mungkin malam ini dia mampu membuatku lupa semuanya. Walau sementara.

××××××

Aku mendapati tubuh Minwoo duduk di sebelahku sambil menghisap sebatang rokok. Dia menoleh mendapati aku sudah terbangun.

“Pagi, Nari-ya,”sapanya sambil tersenyum. Aku mendekat dan mengambil alih rokoknya. Dia kemudian mengusap kepalaku lembut.

How?“tanyanya lembut. Aku menghembuskan asap rokok sebelum menjawab pertanyaannya.

Thanks,“ucapku dingin lalu bersandar di dada bidangnya.

“Hei hei hei. Dingin sekali jawabanmu. Masih ingat kejadian di rumah? I’ll do it again to make you forget it,“tawarnya sambil smirk yang lebih mirip unta meringis seram.

“Tsk. No, thanks,” ucapku lalu bergegas bangkit dan pergi ke kamar mandi.

Drrrrrttt…. Drrrrrrtttt….. Drrrrtttttt

Baru saja aku ingin memasuki kamar mandi, ponselku berbunyi. Layarnya menunjukkan nama pemanggilnya.

Kim Hansol.

Aku mengabaikannya kemudian kembali masuk kamar mandi. Baru semenit aku di kamar mandi, ponselku kembali berbunyi.

“NARI-YA! KIM HANSOL MENELEPONMU!”teriak Minwoo.

“Angkat lalu bilang aku sedang mandi!”balasku teriak pula.

Yeoboseyo?“samar-samar aku mendengar suara Minwoo bercakap-cakap dengan Hansol.

“Aah, Nari sedang mandi. Aku? Aku….aku… Oh, aku tetangganya, aku ingin meminta makanan. Ne, akan aku sampaikan. Ne.

“Dia bilang apa?”tanyaku sambil mengeringkan rambutku. Kebetulan saat Minwoo menutup telepon aku keluar dari kamar mandi.

“Katanya ada yang ingin dia diskusikan. Dia tunggu di taman dekat tempat dance practicemu itu,”jelas Minwoo sambil menyerahkan ponselku.

“Ah, makasih,”sahutku. Si pendek itu ingin diskusikan apa?

Aku buru-buru mencari bajuku yang tercecer. Baju dalam, celana jeans….

Where’s my shirt?

“Kausmu aku cuci. Tadi aku lihat ada noda bekas semalam,”jelas Minwoo sambil menunjuk mesin cucinya yang sedang bekerja.

Great, sekarang aku harus pakai apa?

“Tetapi aku sudah mengantisipasinya. Pakailah kemejaku ini. Aku sudah kekecilan,”Minwoo menyodorkan sebuah kemeja merah maroon.Aku membeberkannya di depan tubuhku.

Cukup besar untuk tubuhku, tetapi tidak begitu besar hingga tubuhku tenggelam.

Aku memakai kemeja tersebut. Yeah, like what I guessed before, baju ini cukup besar. Aku kemudian memunguti isi tasku yang entah bagaimana bisa tercecer. Sehebat apa aku tadi malam ‘main’nya sampai barangku tercecer semua?

“Nari-ya,”panggil Minwoo saat aku memakai kaus kakiku.

“Hmm?”

“Jika kamu butuh pelarian, hubungi aku. Kamu buat aku kehabisan darah sekalipun, nan gwaenchanha. Selama itu artinya kamu bisa tersenyum atau minimal bisa lupa apa yang membuatmu terluka,”ucap Minwoo sambil mengusap kepalaku.

Tiba-tiba hatiku merasa hangat hingga membuatku ingin menangis haru.

Thank you very much,”jawabku sambil tersenyum.

“Aw!”canda Minwoo sambil menirukan gerakan BESTIe – Thank U Very Much. Aku terkekeh melihatnya.

You know, your sense of humor is so bad,”

You know, even sense of my humor is too bad, I’ll do it to make you smile,”

Don’t say it ag…,”

No, I’ll tell you as much as I can. I love you,”

Eum, thank you,”

××××××

Aku melihat seorang pria memakai sweater abu-abu sedang duduk di ayunan dengan lesu. Pria itu -tepatkah aku bilang dia pria? Melihat betapa putih, mungil, dan cantiknya dia?- berambut coklat muda.

“KIM HANSOL!”panggilku dengan nada ceria. Dia menoleh dan mendapatiku berlari ke arahnya. Tunggu dulu, ada yang salah dengan mukanya.

Kemana senyum dan wajah ceria yang selalu dia pasang?

Aku kemudian duduk di ayunan kosong di sebelahnya. Keheningan tercipta sekitar 10 menit. Aku menunggu dia membuka pembicaraan. Dia yang mencariku bukan? Jadi harus dia yang memulai percakapan.

“Wuiiiiiiiiiiiiiiiiinggggggggggg!”jerit Hansol tiba-tiba sembari memainkan ayunannya dengan cepat. Wajahnya tiba-tiba ceria. Wait, dia kenapa sih?

“Han..Hansol-ssi?”panggilku dengan nada khawatir. Orang di sebelahku ini tidak apa-apa, kan?

“Kenapa memanggilku sopan sekali, sih? Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkk~~”jerit Hansol. Aku harus menelepon Rumah Sakit Jiwa. Harus. Kudu. Wajib.

“Nari noona! Kamu menelepon siapa?”tanya Hansol setelah berhenti berbuat gila.

“Rumah Sakit Jiwa,”sahutku sambil berpura-pura menelepon. Selain aku hanya ingin menggoda Hansol, aku juga tidak tahu nomor Rumah Sakit Jiwa itu sendiri.

“Untuk siapa? Ada orang gila di sekitar sini? Dimana?”balas Hansol dengan nada panik.

“Di sebelahku,”ucapku menatap Hansol.

Na?”tanya Hansol sambil menunjuk dirinya sendiri. Aku mengangguk kemudian kembali menelepon –or lebih tepat pura-pura menelepon.

ANDWAAE!”jerit Hansol sembari merampas ponsel putihku. Aku terkekeh melihat tingkahnya. Dasar anak kecil.

“Oke oke, tetapi kamu harus segera mengatakan alasanmu menyuruhku ke sini,”Hansol sedikit menimang-nimang, kemudian dia kembali duduk di ayunannya dengan muka lesu.

“Nari noona,”Hansol tiba-tiba mengambil kedua tanganku dan membuat aku sedikit terlonjak.

“Hmm?”

“Bisakah kamu membantuku?”pinta Hansol dengan tatapan aku-akan-lakukan-apapun-asalkan-kamu-menerima-permintaanku.

“Apa?”Hansol langsung menarik tanganku hingga kami berhadap-hadapan dengan jarak yang sangat dekat sekarang.

“Bagaimana caranya untuk menjadi sepertimu?”

“Eh? Sepertiku bagaimana?”aku menatap horror Hansol.

“Kamu itu cahaya. Bersinar. Kamu itu-“

“Aku tidak terima gombalan,”potongku terkekeh. Hansol kembali merengut.

“AKU TIDAK MENGGOMBALIMU!”teriak Hansol sambil menarik tanganku mendekati tubuhnya. Ah, tidak tidak. Bukan hanya mendekati, bahkan Hansol memelukku! Dia gila, dan harusnya aku menelepon Rumah Sakit  Jiwa tadi.

“Nari noona,“Hansol menyandarkan  kepalanya ke bahuku.

“Han..Hansol-a…..“aku berusaha melepaskan pelukan Hansol yang semakin lama semakin erat.

“Kumohon tolong aku….”

“Kenapa harus aku?”

“Kamu jarang melakukan kesalahan saat latihan. Sementara aku-“aku mulai merasakan pelukan Hansol semakin kuat.

“Ya! Kim Hansol! Kamu ingin membunuhku, hah?!”bentakku sambil terus memberontak melepaskan diri.

“Berjanjilah kamu akan membantuku. Setelahnya aku akan melepaskanmu,” ancam Hansol. Aku mulai merasakan pelukan Hansol mengerat.

YA KIM HANSOL!”

“Tinggal berjanji saja apa susahnya, sih?”Hansol semakin mengeratkan pelukannya hingga aku susah bernafas.

Lebih baik aku mengiyakan daripada harus mati di pelukan namja cantik ini.

NE ARASSEO ARASSEO!”teriakku. Hansol kemudian memegangi pundakku dan membuatku berhadap-hadapan dengannya –lagi.

“Janji?”tanyanya dengan nada berbinar-binar. Aku hanya bisa mengangguk menanggapinya.

“AAAAA THANK YOU, KIM NARI!”Hansol kembali memelukku erat.

YA! KIM HANSOL!”

××××××

Ne, aku masih di rumah. Tunggu di sana, OK?~”Hansol buru-buru menutup telepon. Aku hanya menatap layar iPhone putihku dengan tatapan kesal. Anak itu…. Aku menatap jam tanganku. 20:10.

Bahkan sudah lebih satu jam dari waktu janjian.

Aku kemudian bangkit dengan kesal dan menuju meja pemesanan untuk memesan makanan baru.

Aku kembali ke mejaku dan mendapati sudah ada yang mendudukinya. Nugu? Berani sekali dia.

“Ekhem, permisi…. Hansol?”aku terkejut saat mendapati bahwa Hansol yang duduk di tempatku.

Ah, bukan keberadaannya sajalah yang membuatku terkejut. Namun penampilan Hansol yang seperti orang gila juga sukses membuatku terkejut. Rambut berantakan dengan kaos putih lusuh dan jeans biru berlubang. Dan juga sepatunya….. selain dalam keadaan diinjak belakangnya, warna hitam sepatunya juga sobek dimana-mana dan kotor dengan debu.

Hansol menoleh dan langsung tersenyum riang meihatku.

“NARNIAAAA!~”aku menatap Hansol sebal. Narnia adalah nama panggilan dari Hansol untukku. Anak ini, sudah telat masih saja berani memanggilku seperti itu.

“Berhentilah memanggilku Narnia. Dan panggil aku dengan sebutan noona! Aku setahun lebih tua daripada kamu!”ujarku kesal lalu duduk di depan Hansol.

“Hehe, maaf aku telat. Ketiduran. Begitu bangun langsung cuci muka lalu ke sini. Jadi maaf aku pakai baju lusuh begini,”jelas Hansol menunjuk badannya dari atas hingga bawah.

“Yeah, kamu kelihatan seperti orang gila. Harusnya aku-“

Noonaaa! Berhentilah memanggilku orang gila!”jerit Hansol sambil sedikit menggebrak meja. Syukurlah restoran ini masih sepi.

“Kenyataannya kamu memang mirip orang gila, kok,”candaku sambil menyantap makananku. Hansol merenggut lalu menatapku intens. Dan itu menggangguku.

Ya Kim Hansol! Berhentilah menatapku seperti itu,”hardikku sambil menatap kesal Hansol.

“Aku lapar, noona,”sahut Hansol sambil menunjuk makananku.

Just buy it by your self, Hansol-a,”ucapku cuek sambil terus mengunyah makananku. Hansol terus menatapku dengan cukup tajam. Aku yang merasa risih dengan tatapannya langsung menatap Hansol tajam.

“Apa yang kamu inginkan?”Hansol langsung mengeluarkan aegyo terbaiknya sambil berkata –atau lebih tepatnya memerintahku.

“Belikan aku makanan. Aku lupa bawa dompet.”

“Dan lagi sebenarnya aku mengajak noona ketemuan di sini karena aku lapar hehe.”

Double great.

××××××

“Loh, jadi noona juga tinggal di sini?”tanya Hansol di perjalanan pulang. Hansol menunjuk gedung apartement-ku. Aku mengangguk malas, kemudian menyadari ada yang janggal pada kata-katanya.

“Kamu juga tinggal di sini?”tanyaku kaget. Harga sewa apartement ini cukup mahal, dan Hansol sepertinya dari orang kalangan bawah. Hansol mengangguk pelan sambil menyapa Taeyang oppa  yang kebetulan lewat.

Annyeonghaseyo,”sapa kami sopan.

“Oh, Hansol-a! Kebetulan kita bertemu di sini. Ada yang menitipkan amplop ke padamu tadi. Eh, bukankah itu anak tuan Kim dari kamar 235?”balas Taeyang oppa sambil menyodorkan sebuah amplop. Hansol mengangguk sekenanya dan berterima kasih atas amplop yang baru ia terima.

Kalau mereka bisa kenal sama Hansol, berarti Hansol benar-benar tinggal di sini.

“235? Bukankah itu termasuk kamar elit? Wah, kamu orang berada, ya,”puji Hansol sambil membuka amplopnya. Aku hanya diam sambil menekan tombol lift.

Percuma berasal dari keluarga berada jika yang kamu dengar setiap hari hanyalah bentakan dan amukan, bukan ungkapan kasih sayang.

“Narnia?”panggil Hansol untuk memastikan aku mendengarkannya. Aku tetap diam sambil masuk ke dalam tabung lift. Hansol terus mengikutiku dan memanggilku dengan nama ‘Narnia’.

“Oh! Kamu di lantai 6? Aku ada di lantai 7, satu lantai di atas noona. Nomor 326. Keluargaku asal Busan. Mereka mengelola suatu restoran. Lalu aku pindah ke sini karena aku ingin kuliah. Yeah, walau pada akhirnya aku berhenti kuliah dan memilih menjadi back-dancer. Karena jauh dari orang tua dan kiriman dari orang tuaku hanya cukup untuk membayar sewa, aku harus menghemat penghasilanku agar bisa tetap makan. Tetapi, agensi kita telat memberi gaji kita hingga aku kehabisan uang untuk makan,”celoteh Hansol. Aku sedikit iri pada Hansol. Walau keluarganya jauh di Busan, tetapi mereka masih mampu –setidaknya- untuk memberikan kasih sayang dengan memberikan uang untuk membayar sewa.

Sementara Eomma dan Appa…. jika aku pergi jauh nanti mereka juga tidak akan peduli. Mereka terlalu asyik dengan dunia mereka –juga pertengkaran mereka.

Beberapa detik berlalu dalam ocehan tidak penting dari Hansol. Lift kemudian berhenti di lantai 6 mengehentikan laju lift serta ocehan Hansol. Aku pamit pada Hansol dan melangkah keluar. Beberapa saat kemudian baru kusadari bahwa Hansol mengikutiku dari belakang –ketahuan dari suara langkahnya yang –juga- berisik.

“Untuk apa kamu mengikutiku?”tanyaku malas saat mendapati Hansol sudah di sampingku.

“Rasanya tidak gentle bagiku untuk membiarkan seorang gadis bersinar sepertimu berjalan di lorong sendirian. Akan aku temani noona hingga kamar no. 235 dalam diam,”jelas Hansol dengan gaya sok cool. Aku hanya menghela nafas keras dan berjalan sedikit mendahuluinya.

Ah bukan sedikit, namun cukup jauh di depannya.

Di depan pintu apartementku, aku mendengar teriakan-teriakan orang tuaku. Aku hanya bisa termenung di depan pintu sembari mendengarkan amukan dan bentakan Eomma dan Appa.

”SIAPA LELAKI ITU?!”

“LELAKI YANG MANA?!”

“LELAKI YANG BERSAMAMU KEMARIN MALAM! JANGAN KIRA AKU TIDAK TAHU!”

“EMANG APA PEDULIMU?! KAMU PIKIR AKU JUGA TIDAK ‘BUTUH’? KAMU TERLALU ASYIK DENGAN DUNIAMU DAN JUGA GADIS MURAHAN ITU HINGGA TIDAK PERNAH MEMPERHATIKANKU DAN NARI!”

“JANGAN BAWA-BAWA NARI! INI MASALAH KITA BERDUA!”

“CK, KAMU BICARA SEPERTI KAMU PEDULI SAJA SOAL NARI.”

“AKU AYAHNYA. AKU YANG MEMBIAYAI HIDUPNYA! JELAS AKU PEDULI!”

“AYAH MACAM APA YANG BAHKAN TIDAK TAHU ANAKNYA SUDAH MENGENAL KEHIDUPAN MALAM! DASAR AYAH TIDAK BECUS!”

PLAK!

“JAGA OMONGANMU! KAMU PIKIR KAMU IBU YANG BAIK?!”

“AKU SUDAH MENGANDUNGNYA SELAMA 9 BULAN LEBIH! AKU MERAWATNYA SAAT KECIL SEMENTARA KAMU HANYA DATANG DAN PERGI SESUKAMU!”

“CK, KAMU MEMANG TIDAK SEBAIK DAEJIN!”

“DAEJIN? GADIS MURAHAN ITU?!”

“BERHENTI MEMANGGILNYA GADIS MURAHAN!”

“MEMANG DIA SEPERTI ITU! DIA MEREBUT SUAMIKU, MEREBUT PERHATIAN SUAMIKU, HINGGA TIDAK SADAR ISTRINYA SEDANG DI AKHIR HIDUPNYA!”

“Kamu sakit?”

“IYA! DAN KAMU BAHKAN TIDAK PEDULI DAN TERUS BERSAMA SI DAEJIN DAEJIN ITU!”

“Bagus kalau begitu, aku tidak perlu susah-susah menceraikanmu. AKU SUDAH MUAK MENIKAH DENGANMU!”

“DIKIRA AKU JUGA TIDAK MUAK?!’

Pertengkaran Eomma dan Appa tidak kudengarkan lagi. Hatiku semakin sakit dan sakit mendengar kata-kata yang keluar dari mulut mereka. Aku semakin tidak sanggup untuk bertahan mendengarkan pertengkaran mereka. Aku berlari ke arah lift sambil menahan tangis. Tanpa sengaja aku menabrak bahu Hansol. Aku hanya menoleh sebentar ke arahnya lalu berkata satu kalimat padanya.

Finally you know the real me.” Lalu kembali berlari ke arah lift. Aku menghentikan lajur lift lalu menyandarkan diri di dinding lift.

Jika kamu butuh pelarian, hubungi aku. Kamu buat aku kehabisan darah sekalipun, nan gwaenchanha. Selama itu artinya kamu bisa tersenyum atau minimal bisa lupa apa yang membuatmu terluka.

Aku tiba-tiba teringat kata-kata Minwoo. Dengan segenap kekuatan yang masih kupunya, aku mengambil ponselku dan menekan nomor Minwoo.

Yeobeose…

“Shin Minwoo, help me. Di club biasanya, sekarang,”ucapku dingin dan tertatih. Aku buru-buru menutup sambungan telepon, menguatkan diri, dan menekan tombol lantai teratas.

××××××

“Nari-ya!”aku menoleh setelah mendengar suara Minwoo memanggilku. Tatapannya jelas sangat mengkhawatirkanku.

“Ada apa?”tanyanya setelah duduk di sebelahku dan mengusap kepalaku sebentar. Aku langsung memeluk Minwoo dan berbisik di telinganya.

“Buatlah aku melupakan segalanya.” Aku kemudian terisak sambil menceritakan pertengkaran kedua orang tuaku tadi. Minwoo hanya terdiam, namun aku tahu bahwa dia menahan emosinya.

Setelah ceritaku selesai, Minwoo memberikanku kesempatan untuk menenangkan diri sebelum dia menghapus air mataku.

I’ll make you forget it,”ucap Minwoo dingin dan tajam. Dia langsung menarik tanganku untuk berdiri dan keluar dari club ini. Aku tidak peduli dia akan membawaku kemana. Selama itu mampu membuatku lupa, aku tidak peduli.

“Narnia!”panggil seseorang dari belakangku. Aku menghentikan langkahku dan menoleh.

Cih, anak ini kenapa mengikutiku sih?

Minwoo menyadari langkahku yang terhenti. Dia langsung berhenti berjalan dan ikut memperhatikan arah pandangku.

Nugu?”tanyanya. Aku hanya menghela nafas kasar.

“Biarkan aku bicara dengannya sebentar. Kamu tunggu saja di mobil,”pintaku sambil melepaskan pegangan tangan Yoocheol. Dia hanya menurut kemudian berjalan dengan tenang menuju lift. Sementara aku berjalan ke arah Hansol.

“Apa maumu?”tanyaku tajam. Hansol hanya terdiam dan terkejut.

“N..Narnia… I..Ini pasti bukan noona…. K..Kim Nari yang aku kenal t..tidak seperti ini,”kata Hansol tergugup. Aku memutar mataku lalu menatap Hansol tajam.

“Memang berapa lama kamu mengenalku?”sindirku. Hansol hanya terdiam, bingung harus menjawab apa. Jelaslah dia bingung, dia hanya mengenalku selama beberapa hari terakhir ini.

“Ak..aku selalu memperhatikan noona saat latihan. Ak..aku yakin noona  bukan gadis yang seperti in…,”

“Jangan berkata seolah kamu mengenalku,”potongku dengan begitu tajam.

“T..tap,”

“Apa? Kamu ingin berkata aku adalah seorang bintang? Bersinar seperti tak ada celah untuk kegelapan? Iya?”bentakku pelan sambil mendorong tubuh Hansol ke dinding. Hansol hanya mengangguk pelan.

“JIKA KENYATAANNYA AKU SEPERTI INI BAGAIMANA? AKU WANITA MALAM. HAMPIR SETIAP MALAM AKU KE SINI UNTUK MELARIKAN DIRI DARI RUMAH. AKU MUAK, AKU MUAK MENDENGAR PERTENGKARAN ORANG TUAKU. AKU MUAK DI RUMAH. SEJAK KECIL YANG KUDENGAR HANYA BENTAKAN DAN BENTAKAN. SILAHKAN KAMU BILANG AKU PENGECUT KARENA MELARIKAN DIRI DARI MASALAH, SILAHKAN! JIKA KAMU MENJADI SEPERTIKU HANYA UNTUK SATU HARI SAJA, APA KAMU AKAN KUAT? PUAS KAMU LIHAT AKU YANG SESUNGGUHNYA? PUAS?!”bentakku yang semakin lama semakin berubah menjadi isakan. Kakiku tidak sanggup menahan beban tubuhku hingga aku semakin lama semakin terduduk di lantai. Aku memeluk kakiku sambil menangis seperti yang biasa aku lakukan di rumah.

Kurasakan tubuh Hansol ikut terduduk di lantai dan mengelus punggungku.

“Maaf,”ucap Hansol pelan. Aku menoleh ke arahnya dan melihat wajahnya yang sangat serius.

“Untuk?”

“Aku sering menganggap noona seorang bintang yang tidak memiliki kekurangan sedikit pun. Aku sering menganggapmu sebuah cahaya tanpa bayangan. Tetapi ternyata apa yang dikatakan orang-orang itu benar. Light always followed by shadow,”ucap Hansol pelan sambil terus mengusap punggungku. Aku menghapus air mataku kasar kemudian menceritakan apa yang terjadi padaku.

Selama aku bercerita, Hansol hanya menanggapi dengan anggukan dan juga elusan di punggung. Aku menceritakan apa yang bahkan tidak bisa aku ceritakan pada Minwoo. Setelah perasaanku lega, aku merasakan tangan mungil Hansol menghapus sisa-sisa air mataku.

“Jika kamu butuh pelarian, silahkan ke temanmu itu. Tetapi jika kamu butuh cerita, silahkan datang ke kamar no. 326 di lantai 7,”ucap Hansol. Aku hanya tertawa kecil mendengar ucapannya.

“Sudah berhenti menangisnya, temanmu itu pasti sudah kesusahan menahan diri di dalam mobil. Perlu aku antar?”Hansol membantuku berdiri. Aku menolak saat Hansol membantuku berjalan.

“Tidak usah, aku masih kuat berjalan,”sahutku lemah lalu pamit ke Hansol. Aku berjalan dengan lemah menuju lift. Aku bersandar di dinding lift yang membawaku ke basement dan mulai menangis lagi.

××××××

“Ayo, ulangi gerakannya sekali lagi. One two three four-“aku bisa mendengar suara Kang songsaengnim saat aku baru masuk ruang latihan.

Annyeonghaseyo,”sapaku pelan. Kang songsaengnim menghentikan latihan dan menatapku tajam.

“Jam berapa ini, Kim Nari-ssi?”sindir Kang songsaengnim. Aku hanya mampu menunduk.

Jeosonghamnida, songsaengnim,”ucapku sambil membungkuk.

“Tidak kusangka, anak serajin dan secerdas Kim Nari bisa terlambat,”sindir Hyosang yang duduk di pojokan. Aku menoleh dan menatap Hyosang sedikit tajam.

“Bukankah setiap orang punya kekurangan masing-masing. Termasuk si sempurna Kim Nari. Kira-kira apa alasan di balik keterlambatannya, ya?”sahut Yejin dengan nada sok manis.

“Apa karena keasyikan melayani om-om sampai telat begini?”sahut Hojoon dan Jiho sambil menatapku dengan tatapan ejekan. Bagaimana mereka bisa tahu?

Aku masih terus mendengar mereka mengejekku. Dan selama mereka mengejekku, aku hanya bisa terdiam sambil menahan tangisan.

Songsaengniiimmmm~~~~”teriak Hansol tiba-tiba sambil memeluk Kang songsaengnim.

Ya Kim Hansol! Lepaskan aku!”berontak Kang songsaeng.

“Andwae~~~~”balas Hansol dengan nada manja.

“Hansol hyung, kamu homo?”tanya Byungjoo polos. Kulihat Hansol mengangguk dengan semangat dan berpura-pura ingin mencium songsaeng.

Ya! Kim Hansol! Kau menjijikkan!”bentak songsaengnim dan sukses melepaskan diri dari Hansol. Kulihat Hansol merenggut setelah Kang songsaengnim melepaskan diri.

“Ah, Hansol hyung benar-benar homo! Jadi selama ini hyung suka aku? Jadi hyung suka skinship denganku karena hyung suka aku? ANDWAAAEEE!!!!!!!! Jangan mendekatiku lagi, hyung!”teriak Byungjoo sambil menatap jijik Hansol.

“Kalau misalnya aku memang suka sama kamu bagaimana?”sahut Hansol dengan tatapan genit.

Oh my God, kamu benar homo, Kim Hansol-ssi!”jerit Yejin dan Da In. Sementara Jinjoo dan Ji Ae menutupi telinga Woojoo dan Sooji.

Hansol terus menggoda Kang songsaeng dan Byungjoo sementara aku hanya mampu menatap Hansol nanar.

××××××

“Kenapa?”tanyaku tajam. Hansol yang sedang menikmati es krim coklatnya di hadapanku langsung menatapku bingung.

“Apanya yang kenapa?”tanyanya polos dengan mulut yang belepotan es krim coklat.

“Kejadian tadi di tempat latihan,”Hansol mengangguk paham kemudian melanjutkan acara menikmati es krim kembali.

“Kenapa?”ulangku dengan sekuat tenaga. Air mataku seakan ingin merebak keluar lagi saat mengingat kejadian di tempat latihan tadi.

“Karena noona menangis.”

Pardon?”tanyaku. Hansol kembali menatapku polos.

Dengan muka polos dan belepotan es krim coklat seperti itu, Hansol benar-benar seperti anak kecil.

“Karena Narnia noona menangis. Aku nggak mau ada orang yang kusayang menangis di depanku. Tidak Papa dan Mama, tidak Byungjoo, tidak Kang songsaengnim, tidak Narnia. Tidak boleh ada yang berani menangis di depan Kim Hansol,”jelas Hansol sambil menghapus jejak-jejak es krim di mukanya.

Seketika dadaku terasa hangat. Air mata yang tadinya aku tahan untuk tidak keluar tumpah juga. Hansol panik melihatku.

“Na..Nari noona. Jangan menangis…,”ucapnya panik. Aku terus menangis dalam diam.

“ARRGHH!”kudengar Hansol mengerang. Dan detik kemudian kurasakan sebuah bibir mendarat di bibirku. Aku membuka mataku dan menatap kaget siapa yang menciumku.

Hansol terus menciumku sementara aku hanya terdiam. Bukan bukan, aku bukannya gadis bodoh yang tidak tahu harus bertindak bagaimana saat orang yang kau suka menciummu. Aku paham, hanya saja…. untuk kali ini aku terkejut.

Tunggu, apakah tadi aku bilang orang yang disukai? Sejak kapan aku suka Hansol? Ah, Kim Nari bodoh.

Hansol menjauhkan dirinya. Matanya menatapku tajam.

“Jika noona menangis lagi, akan kupastikan bukan hanya bibirmu yang kucium,”ancam Hansol sambil tersenyum iblis. Aku hanya menatap kesal Hansol, namun aku suka dengan cara Hansol menenangkanku.

Noona harus bisa mengutarakan apa yang kamu rasakan kepada orang tuamu. Perjuangkan hakmu sebagai seorang anak yang butuh perhatian. Jika noona butuh bantuan, datang saja ke lantai 7 kamar 326,”ucap Hansol.

“Berhentilah mempromosikan kamarmu, Kim Hansol-ssi,”Hansol hanya tertawa mendengar perkataanku.

“Senyum,”Hansol meletakkan dua ibu jarinya di masing-masing sudut bibirku dan menariknya ke atas. Aku merenggut sebentar sebelum menjatuhkan diri di pelukan Hansol.

Sebelum air mataku kembali pecah dan tumpah di bahu Hansol.

××××××

“Pagi, Nari-a!”sapa Appa yang sedang duduk di meja makan sambl membaca koran dan menikmati kopinya.

Appa?”tanyaku sambil duduk di kursi dekat beliau.

“Ada apa, Nari sayang? Kamu seperti tidak pernah bertemu appa saja. Appa kan selalu ikut sarapan bersama kita?”sahut Eomma dari dapur sambil membawakan berbagai macam makanan untuk sarapan. Eomma memberikan porsi padaku sebelum memberikannya kepada Appa.

Gomawo, istriku~”ucap Appa sambil mengecup pipi Eomma. Aku tersenyum hangat melihat kedua orang tuaku sudah berbaikan.

“PERGI SAJA, SANA! AKU TIDAK MAU ADA YANG MENYEBARKAN PENYAKIT DI RUMAH INI!”teriakan Appa menyadarkanku dari imajinasiku saat semuanya baik-baik saja. Aku terduduk sendirian di kursi meja makan. Terduduk sambil menahan tangisan.

“AKU MEMANG INGIN PERGI, KOK! AKU MUAK TINGGAL BERSAMA SUAMI TIDAK PERHATIAN SEPERTIMU. Cih, apa yang dulu membuatku menerima lamaranmu.”

“Pintu terbuka lebar untukmu pergi, silahkan.”

Kamu harus bisa mengutarakan apa yang kamu rasain kepada orang tuamu, Nari-a. Perjuangkan hakmu sebagai seorang anak yang butuh perhatian. Jika kamu butuh bantuan, datang saja ke lantai 7 kamar 326.

Aku menghapus air mataku dengan kasar kemudian menggebrak meja makan. Appa dan Eomma menghentikan teriakan mereka. Aku berbalik menghadap mereka dengan berani.

“SAMPAI KAPAN KALIAN AKAN SALING BERTERIAK SATU SAMA LAIN? SAMPAI KAPAN KALIAN BIARKAN AKU MENDENGAR TERIAKAN DAN BENTAKAN KALIAN? SAMPAI KAPAN KALIAN LUPA YANG TINGGAL DI SINI BUKAN HANYA KALIAN, TETAPI ADA AKU JUGA! SAMPAI KAPAN?!”bentakku setengah menangis. Detak kemudian aku berlari keluar. Aku membanting pintu apartement dengan keras, menenangkan diri sebentar, lalu berjalan ke tangga. Hanya satu lantai tidak akan membuat kakimu hancur.

Aku berjalan mencari tempat tinggal Hansol. 321, 322, 323, 324, 325, 32..

Langkahku terhenti tepat di depan pintu 326. Aku mendengar suara tawa dari para wizard di tempat latihan. Aku mendekatkan diri ke pintu agar bisa mendengar ucapan mereka.

Ya Kim Hansol. Kamu benar-benar aktor yang baik. Great job, boy!”

Hyung, daebak!

“Makasih juga atas infonya. Tidak pernah kusangka ada yang mau dilayani oleh dia.”

“Sejak kapan seorang Kim Hansol gagal. Sekarang bayar taruhannya!”

“Cih!”

“Tuh!”

“Harusnya hyung gagal saja. Aku tidak punya uang.”

“Khusus untukmu, Byungjoo-ssi, aku bebaskan dari taruhan itu.”

“Serius, hyung?!

Nope, hahahaha. Bayar, cepat cepat!”

“Hansollie, setelah ini apa yang akan kamu lakukan buat gadis itu?”

“Eum, membuangnya begitu saja? Ide bagus, bukan?”

Aku tidak mendengar apa-apa lagi yang mereka ucapankan. Aku terjatuh ke lantai. Tidak menangis, hanya saja kakiku terlalu lemah untuk berdiri. Aku merogoh ponselku, menekan fitur sms, dan mengirimkan satu kalimat ke Hansol.

If that’s what you want, you’ll never be able to see me again.

××××××


-Epilogue-

“Nari-a,”seorang kakek berkemeja merah maroon model lama meletakkan sebuah rangkaian bunga di atas sebuah pusara di tengan ladang ilalang.

“Bagaimana keadaanmu sekarang? Ini aku, Minwoo. Kamu sudah bahagia di sana, kan? Kalau iya, syukurlah. Kamu harus bahagia. Di sana tidak ada yang membuatmu tersiksa lagi.”

“Nari-a, sudah kubilang, kan? Jika kamu ada masalah, hubungi aku saja. Cukup aku saja yang kamu percaya di dunia ini. Sekarang lihat akibatnya, kamu bunuh diri kan.”

“Nari-a, saat mengetahui kamu bunuh diri, hal yang ingin aku lakukan adalah menyusulmu. Aku menyesal tidak melindungimu sebagaimana janjiku. Aku menyesal tidak mampu menjagamu. Kenapa kamu harus pergi?”

“Lebih dari 20 tahun sudah berlalu, aku sudah menikah bahkan memiliki cucu. Tetapi mengapa aku tetap mencintaimu, Nari-a. Sekarang aku cukup menunggu waktuku datang agar bisa menyusulmu. Jadi, kamu harus menungguku, ya. Aku mencintaimu, Nari-a. Dulu, sekarang, dan selamanya.”

 

×××THE END×××

alphastee, 2014-05-24 19:46.

 

Little note =

Jiho adalah nama asli Xero Topp Dogg, sementara Byungjoo = B-Joo. Taeyang yang dimaksud di sini adalah Jenissi Topp Dogg (nama asli Kim Taeyang) bukan Taeyang Bigbang.__. Yejin adalah Nada Wa$$up, lalu Jinjoo-Woojoo-Dain-Jiae-Soojin-Nari juga member Wa$$up. Sementara tokoh di luar itu adalah orang-orang OC.

Hanya hasil imajinasi otak, maaf sedikit OOC, Canon dan bahasa yang dipakai nggak baku ;-; Terima kasih sudah merelakan sedikit waktu untuk membacanya. Maaf ini bukan cerita yang sempurna dan feelnya nggak dapat;-; Kamsahamnida *bow*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s