[Fanfiction] Alphabet Series — A_madeus (1/2)

Amadeus by artfantasy

||the A story from Alphabet Series with Amadeus by alphastee || Starring Kim Hansol (Hansol Toppdogg), Kim Byungjoo (B-Joo Toppdogg), and Song Minwoo (OC’ team) || Angst-AU-Family || Two Shoot ||

 

Inspired from AmadeuS (1984), story about the envious Antonio Salieri to Wolfgang Amadeus Mozart. Respectly credit to producer of this amazing movie, Saul Zaentz.

Mr. Zaentz, sorry I changed your story-plot but thank you for inspiring me.

  

Special credit to missfishyjazz @ artfantasy for the awesome cover ❤

   Why though he died but his name is still around? I’m still here but no one remember me 

 ~ 1984, Amadeus ~

“Byungjoo-a, selamat ya!”

“Kim Byungjoo~  Selamat, bro!”

As expected, Byungjoo-a. Congratulation!”

Seorang pria sedang berada di tengah ruangan, membawa sebuah piala, dan tersenyum. Orang-orang di sekelilingnya terus mengerubutinya dan memberikan selamat. Berbagai ucapan selamat dan hadiah menyerbu namja berambut cream keriting itu.

Sementara seseorang berdiri cukup jauh dari kerumunan itu. Matanya menatap kesal ke arah namja penyebab kerumunan itu. Emosinya meluap-luap hingga wajah tampannya memerah. Rambutnya yang kelam sudah tidak dalam keadaan baik-baik saja. Tangannya menggepal kesal hingga urat-uratnya kelihatan. Ia ingin pergi, namun kakinya tidak bisa digerakkan.

Dan emosinya semakin meluap saat melihat wanita yang penting dalam hidupnya berlari ke arah namja itu dan memberinya selamat. Samar-samar dia mendengar dirinya dibanding-bandingkan dengan lelaki itu. Dengan langkah kasar, dia melangkahkan kaki keluar gedung itu. Hatinya akan semakin sakit jika melihat apa yang terjadi.

If God want to give music masterpiece to the world, why did He have to give it through that crazy boy? Why not me, the hardworker one?

~ 1984, Amadeus ~

Tahun 2046, Seoul, Korea Selatan

“Tuan, tolong segera datang! Pasien nomor 156 mengamuk lagi!”

“Saya sudah di depan rumah sakit. Saya akan segera ke sana.”

Seorang laki-laki berjas putih dan membawa beberapa berkas bergegas menuju kamar pasien spesialnya di nomor 156. Selama 20 tahun karirnya, ia memiliki satu pasien yang –menurut kabar- sudah 32 tahun menetap di rumah sakit ini. Seniornya menyerahkan urusan pasien ini kepadanya saat baru menjadi dokter kejiwaan karena beliau sudah menyerah menghadapi pasien spesial ini. Langkahnya semakin cepat saat melihat tujuan semakin dekat.

“Tuan Song!”panggil salah satu asistennya yang berada di luar ruangan kepada dirinya. Dia hanya mengangguk kemudian mendekati pintu dan mengetuk sebentar.

“Kim Hansol-ssi. Bukakan pintu sebentar,”pintanya cukup halus. Sebuah teriakan parau langsung menyahutinya.

LEAVE ME ALONE!”Tuan Song –atau Song Minwoo- hanya menghela nafas dan sekali lagi melakukan hal yang sama.

Yang lagi-lagi dibalas oleh teriakan yang sama.

“Dia sudah seperti itu sejak 2 jam terakhir,”jelas asistennya. Minwoo hanya mengangguk tenang, walau ia merasa kepalanya seperti diikat kencang.

“Hansol-a,”sebenarnya ia tahu pasiennya lebih tua bertahun-tahun darinya, bahkan mungkin seumuran ayahnya, namun ia terpaksa. Pasiennya ini tidak suka dipanggil terlalu formal.

Beberapa detik berlalu dan tidak ada balasan menyeramkan seperti tadi. Aman.

“Hansol-a, wae? Bukalah pintunya dan biarkan aku masuk. Ceritalah padaku,”lanjutnya dengan bahasa tidak formal. Masih tidak ada sahutan, namun Minwoo bisa mendengar suara langkah kaki dan kunci pintu dibuka.

“Masuklah,”sahut di dalam. Minwoo dengan lega memasuki ruangan 156 tersebut. Ia sempat memberi isyarat agar asistennya cukup mendengarkan dari ruang pengawas.

Setelah seluruh anggota tubuhnya masuk, Hansol –sang pasien spesial- buru-buru menutup pintu dan menguncinya kembali. Minwoo hanya menatap tenang Hansol yang terlihat was-was.

“Minwoo-a,”panggil Hansol buru-buru memeluk Minwoo. Yang dipeluk hanya terkejut melihat tingkah pasiennya. Selang kemudian dia merasakan kemejanya basah.

“Hansol-a, wae gurae?”tanya Minwoo pelan.

“Byungjoo.”

Byungjoo?

Nuguya?”tanya Minwoo sambil mencoba menggali informasi tentang siapa-itu-Byungjoo di otaknya. Dia yakin pernah mendengar nama itu, namun kapan dan siapa?

“Byungjooku, Byungjoo adikku. Aku dihantui olehnya. Dia menangis. Aku…. aku sudah berjanji padanya untuk melindunginya namun setan menggodaku dan membuatku membunuh Byungjoo. Aku…. Aku…,”isak Hansol. Tubuh Minwoo sedikit menegang saat mendengar kata ‘membunuh’. Seketika otaknya merefresh alasan mengapa kakek-kakek yang sedang memeluknya ini bisa berakhir di Rumah Sakit Jiwa.

“Pasienmu ini sudah 12 tahun di sini. Kepolisian yang memasukkannya ke sini atas permintaannya sendiri. Kalau tidak salah, dia dituduh membunuh Kim Byungjoo. Saat membunuh dia mengaku masih waras, namun dia merasa gila karena selalu merasa diikuti oleh Byungjoo. Kamu harus hati-hati karena dia gampang mengamuk. Aku sudah tidak kuat menghadapinya”

“Minwoo-ssi, usahakan kamu mampu mengorek informasi lebih tentang Kim Hansol dan Kim Byungjoo. Hansol-ssi tidak mau bercerita. Ia hanya mengatakan, ‘aku yang membunuh Byungjoo dan aku mengucapkan hal ini dengan kesadaran penuh’ namun saat ditanya motifnya apa, ia langsung mengamuk.”

“Hansol-a, bisa kau ceritakan apa yang terjadi antara dirimu dan adikmu itu?”Hansol hanya menatap Minwoo dengan tatapan anak kecil.

“Karena Minwoo sahabatku,”sahabat? Sejak kapan aku bersahabat dengan kakek ini?

“Aku akan menceritakan semuanya. Tentang awal aku mengenal musik, tentang pertama kali aku bertemu Byungjoo, dan cerita antara aku dan Byungjoo.”

~ 1984, Amadeus ~

Aku dan dia bukan saudara kandung. Aku adalah Kim Hansol. Aku anak tunggal. Sesungguhnya orang tuaku ingin menambah anak baru, namun Tuhan berkehendak lain. Suatu malam aku dan Mama mendapat kabar bahwa Papa termasuk dalam daftar korban kecelakaan pesawat. Jasad beliau tidak ditemukan –atau tidak teridentifikasi.Batal lah impian untuk mendapatkan seorang adik. Hingga tiba-tiba –setelah 7 tahun berlalu- Mama mengumumkan akan mengadopsi seorang yatim piatu yang setahun lebih muda dariku.

Dan dia adalah Kim Byungjoo.

Aku tidak tahu apa spesialnya anak itu hingga Mama mengadopsinya. Dia seorang pianis sepertiku. Apakah aku saja tidak cukup?

Aku mengenal musik sejak aku kecil. Entah mengapa musik membawa kebahagiaan tersendiri bagiku saat mendengarkannya. Namun sayang, Papa adalah orang yang membenci musik lebih dari apapun. Berbanding terbalik dengan Mama yang seorang mantan penyanyi drama musikal.

Begitu mendengar kecelakaan pesawat yang dialami Papa, kehidupanku berubah. Mama segera mendaftarkanku ke berbagai les musik. Dalam waktu singkat aku sudah menjadi pianis muda yang cukup berpengaruh di kotaku.

Namun kehadiran Byungjoo merubah segalanya.

~ 1984, Amadeus ~

 

Tahun 2013, Busan, Korea Selatan

“Mama, haruskah aku mengenakan jas? Aku hanya menemui adik angkat, kan?”aku memutar badanku dan melihat tiap inci dari bayanganku di cermin.

“Mengapa? Kamu terlihat tampan, kok,”balas Mama sambil terus menatap bayangan beliau. Mama cantik sekali hari ini.

“Itu lain halnya, Ma. Aku kan selalu tampan. Hanya saja aku sama dia hanya beda setahun, kan? Untuk apa berpakaian resmi seperti ini?”Mama langsung melirikku tajam. Seakan kata-kataku sebuah kesalahan. Namun detik kemudian Mama merubah tatapannya menjadi tatapan maklum.

“Kamu belum mengenal adikmu, ya?”sahut Mama sedikit tertawa. Aku memutar mataku kesal.

“Bahkan aku tidak tahu namanya. Bagaimana aku bisa tahu alasan mengapa aku harus mengenakan baju resmi?”ucapku sambil kembali memperhatikan penampilanku.

“Sudahlah, nanti kamu akan tahu. Kamu pernah bertemu dia sebelumnya, kok,”Mama menepuk pundakku. Ah, apakah calon adikku sangat spesial hingga aku harus mengenakan pakaian resmi?

~ 1984, Amadeus ~

“Mamamu tidak menceritakan soal adikmu itu?”tanya Minwoo. Hansol menerawang ke langit-langit lalu menghela nafas. Kemudian dia mencari tempat duduk, tidak jauh dari posisi Minwoo.

“Hmm. Mama hanya bilang jika aku akan mempunyai adik baru. Hanya itu, tidak lebih. Tidak pernah kusangka bahwa adikku adalah sainganku. Kim Byungjoo,”Hansol mengenggam erat pegangan kursi. Urat-urat di tangannya terlihat begitu jelas. Hansol-ssi pasti menahan emosi saat ini.

“Jadi, Byungjoo adalah saingan dan adi-“

“JANGAN SEBUT LAKI-LAKI BAJINGAN ITU ADIKKU!”bentak Hansol lalu kembali mengamuk. Hanya sebentar, namun beberapa menit kemudian Hansol terduduk dan terus menangis.

“Mianhae, Byungjoo-a. Mianhae….”

~ 1984, Amadeus ~

“Ma, bukankah ini tempat pertunjukan? Adikku pianis?”tanyaku polos. Mama hanya tersenyum penuh arti. Aku mengambil tempat duduk di samping Mama. Tempat yang cukup strategis.

“Nanti Mama tunjukkan yang mana calon adikmu. Perhatikan saja dengan baik.”

~ 1984, Amadeus ~

“Aku menikmati permainan malam itu. Hingga seseorang berambut keriting menaiki panggung dengan main-main. Sementara pianis lain memasang wajah serius ataupun gugup, dia hanya terlihat menganggap piano adalah sebuah permainan anak kecil. Jika kamu melihat di web untuk sharing video, coba cari Kim Byungjoo 2013. Kamu akan melihat bagaimana sikapnya dia yang main-main di atas panggung,”lanjut Hansol setelah tenang. Minwoo mulai terhanyut dengan cerita Hansol.

“Aku pernah sekali melihatnya, lalu apa masalahnya?”tanya Minwoo sedikit heran. Hanya masalah sikap di atas panggung, kenapa dia tega membunuh Byungjoo?

“Walau dia bertingkah main-main, dia mendapat standing applause dari seluruh penjuru gedung itu. Sementara aku yang serius biasanya hanya mendapat di beberapa tempat. Aku merasa dikhianati Tuhan. Aku diberi-Nya minat untuk bermusik tanpa bakat. Aku belajar dan belajar dengan keras hingga selama setahun aku mampu menjadi pianis yang dapat diperhitungkan. Aku belajar dan menaati tata tertib saat bermusik. Dan dia? Tanpa belajar pun dia mampu merebut posisiku. If God want to give a masterpiece to the world, why did He have to give it through that crazy boy? Why not me, the hardworker one? Lalu untuk apa aku diberi minat bermusik jika pada akhirnya satu karyaku tidak ada yang mengingatnya? Untuk apa semua usaha kerasku jika pada akhirnya aku digantikan dan dilupakan?”suara parau Hansol semakin parau saat mengucapkan kalimat demi kalimatnya. Setitik air jatuh dari matanya. Minwoo tidak mampu berkata apa-apa. Ia hanya mampu diam di tempatnya.

“Aku merasa dikhianati. Mengapa harus Byungjoo? Mengapa bukan aku?”Hansol terus menerus mengucapkan hal tersebut. Isakannya mulai muncul ke permukaan. Dan lagi-lagi Minwoo tidak tahu apa yang harus ia lakukan.

“Tetapi…,”akhirnya Minwoo tahu apa yang harus ditanyakan. Hansol mengangkat mukanya yang menunduk.

“Kamu tetap menyayangi Byungjoo, kan? Out from music, kamu menyayanginya, kan?”

Hansol hanya mampu diam sebelum melanjutkan ceritanya.

~ 1984, Amadeus ~

Tahun 2014, Seoul, Korea Selatan

Hyung! Coba dengarkan permainanku! Aku baru menciptakannya!”jerit Byungjoo sambil sedikit mengejutkanku. Aku yang sedang asyik membaca buku hanya menatapnya.

“Memangnya kapan kamu ada waktu untuk membuat melodi, Joo? Setiap hari kamu hanya bermain,”tanyaku tanpa mengalihkan perhatianku dari buku.

“Ah, hyuuung,”Byungjoo merasa kesal dan menarik tanganku. Dibawanya aku ke ruang tengah dimana baby grand piano kami diletakkan. Aku tertawa kecil melihat tingkah Byungjoo yang seperti anak kecil. Begitu saja sudah marah. Membuatku lupa bahwa dia berumur 21 tahun.

Byungjoo duduk di piano bench dan memulai permainannya. Seperti biasa, permainannya selalu indah. Tidak heran kamu mendapat standing applause setiap kali kamu perform. Tanpa sadar, aku mulai terhanyut dengan permainan adik angkatku ini.

Hyung! How?”aku buru-buru tersadar begitu Byungjoo menyelesaikan permainannya yang indah. Aku hanya tersenyum dan bertepuk tangan.

There’s no reason to say it’s not good. Indeed, it’s so amazing,”pujiku. Byungjoo hanya tersenyum kemudian menarikku untuk duduk bersama.

“Ayo, kolaborasi! Hyung tahu? Aku selalu menonton performance dari hyung sejak aku berumur 14 tahun. Saat pertama kali mendengar permainan hyung, aku memiliki impian untuk bisa kolaborasi denganmu! Permainan hyung selalu memiliki ekspresi yang dalam, sesuatu yang tidak ada dalam permainanku. Kumohon, lengkapi permainanku. I’m begging you, hyung,”ungkap Byungjoo. Dia berusaha keras mengeluarkan aegyo terbaiknya. Lagi-lagi membuatku lupa bahwa dia berumur 21 tahun.

Dan membuatku lupa bahwa dia adalah sainganku.

Tetapi, tidak ada alasan bagiku untuk menolaknya. Somehow, aku merasa aku menyayanginya sebagai adikku. Mungkin efek dari keinginanku memiliki seorang adik sejak kecil. Aku bahkan pernah berjanji akan melindunginya dan tidak akan membuatnya menangis ataupun terluka. Walau terkadang dia membuatku iri dengan permainannya.

Hyung, please. I’m begging you,”Byungjoo menarik-narik ujung kausku. Aku hanya menatapnya. Sedikit terkekeh. Bagaimana tidak? Sainganku –maksudku adikku- terus menerus melakukan aegyo agar aku mau berkolaborasi dengannya. Aku seperti tidak melihat laki-laki berumur 21 tahun, namun seorang anak kecil berumur 8 tahun. Aku mencubit pelan pipinya kemudian meletakkan tanganku di atas tuts dan menekan satu tuts di jari kelingkingku.

“Kolaborasi? Mau memainkan melodi milik Mozart?”tawarku dan memainkan sepenggal nada dari karya terakhir beliau, Requiem.

“Ah, hyung. Melodi itu terlalu susah. Hyung ingin menjahatiku?”rengek Byungjoo dan menekan tuts secara asal.

“Memang kenapa? Melodi itu indah untuk di dengarkan,”sahutku tenang dan terus memainkan Requiem. Aku sepertinya gila, menganggap melodi untuk misa kematian Mozart sebagai melodi yang indah, bahkan terindah bagiku. Melodi-melodi Mozart tidak pernah gagal indah –aku tahu. Hanya saja, ini melodi kematian. Seleraku sepertinya cukup abnormal, seperti tidak ada melodi lain yang lebih normal untuk disebut indah.

Hyyuuunggg,”rengek Byungjoo lagi. Aku melihat setetes air mata yang keluar dari mata kiri Byungjoo. Aa, bukan setetes, namun sudah entah berapa tetes hingga membasahi wajah imut Byungjoo. Seketika aku berhenti bermain dan menjadi panik.

“Byung…Byungjoo-a, jangan menangis. Aduh, oke-oke kita tidak akan memainkan Requiem, tetapi melodi yang barusan kamu buat. Jangan menangis, Byungjoo-a,”ucapku panik sambil menghapus air mata Byungjoo.

“T…tetapi melodi buatanku jelek, hyung,”sahutnya terisak.

“Tidak, itu bagus sekali. Kita akan  memainkan melodimu itu.”

“Tidak apa-apa, hyung?”

“Selama itu artinya kamu tidak menangis lagi, it’s okay. Hyung janji hyung tidak akan pernah membiarkan seorang Kim Byungjoo menangis ataupun terluka.”

~ 1984, Amadeus ~

“Dan saat itulah aku menyadari apa yang kurang dari permainannya. Aku selalu memiliki pemikiran dalam hidupku. Semua di dunia ini memiliki yang baik dan yang buruk. Saat aku dan Byungjoo berkolaborasi, aku melihat hal ‘buruk’ dari permainannya. Pergerakan tangannya kacau hingga beberapa kali ia salah menekan tuts. Namun yang membuatku iri, dengan cepat dia menutupi kesalahannya. Dibutuhkan pendengaran yang benar-benar baik untuk mengetahui kesalahannya itu,”lanjut Hansol. Ia menutup matanya dan tangannya bergerak ke atas dan ke bawah. Sepertinya dia sedang membayangkan mendengar suara permainan dia dan Byungjoo waktu itu.

“Jika Byungjoo memiliki melodi yang dia buat sendiri, apa kamu tidak memiliki walau satu saja?”tanya Minwoo. Diam-diam ia mengidolakan Kim Byungjoo, seorang pianis muda legendaris. Saat masih belajar musik dulu, Minwoo sering memainkan melodi ciptaan Byungjoo.

“Melodi? Ah, aku memiliki cukup banyak melodi. Lebih banyak sedikit dari Byungjoo. Mau mendengar satu?”ucap Hansol semangat dan berjalan cukup cepat ke arah piano yang ada di kamarnya. Dengan perasaan bahagia, ia menekan tuts demi tuts hingga membentuk suatu nada yang asing di telinga Minwoo.

“Minwoo-a, pernah mendengarnya? Ini adalah karya yang paling kubanggakan!”Hansol berbalik dan menatap wajah Minwoo.

I’m not sure, but I never heard that before,”Minwoo mengedikkan bahunya. Ia ragu apakah pernah mendengar nada-nada itu atau belum. Hansol menatap heran dan kembali memainkan sebuah nada.

“Oh, aku pernah mendengarnya!”teriak Minwoo saat Hansol baru di tengah-tengah permainannya.

“Aku baru tahu bahwa kau yang menciptakannya. Itu benar-benar hebat!”lanjutnya. Hansol berbalik dan tersenyum nanar.

“Bukan aku yang menciptakannya. Byungjoo,”jelas Hansol lalu bangkit dari piano bench dan kembali ke tempatnya sebelumnya.

“Sudah kuduga tidak ada yang mengingat permainanku,”ucapnya lirih. “Itu adalah melodi terakhir Byungjoo. Melodi yang menghantarkanku ke kekalahanku dan juga kematiannya,”lanjut Hansol. Batuk mengiringi ucapannya.

“Jika saja aku tidak tergoda setan, aku tidak akan jadi segila ini.”

~ 1984, Amadeus ~

“Aku saja? Bagaimana dengan Hansol hyung?”

“Kamu lebih berbakat, Byungjoo-a. Hyungmu itu hanya akan mempermalukan dirinya jika mengikuti kontes tersebut. Mama yakin kamu mengetahui hal itu, sayang.”

Arasseo, Ma. Aku akan mengikuti perlombaan itu.”

Good boy!”

Brak!

“Ma! Kenapa mama hanya mendaftarkan Byungjoo? Aku juga pianis! Aku anak kandung mama! Tetapi kenapa  hanya Byungjoo yang mama daftarkan?!”aku membuka pintu kamar Mama dengan kasar. Di dalam kamar, ada Mama dan juga Byungjoo. Kulihat Byungjoo tersenyum bangga dan –sedikit– meremehkanku.

“Kim Hansol! Jaga kelakuanmu! Aku ini mamamu!”bentak Mama.  Aku hanya menatap kesal Mama dan Byungjoo.

“Kenapa hanya Byungjoo, Ma?”tanyaku lagi dengan lebih sopan. Kudengar suaraku sedikit bergetar. Otakku terus memikirkan satu kalimat.

Mama lebih memilih Byungjoo daripada aku. Lebih memilih anak angkat daripada anak kandungnya.

Byungjoo mendekat ke arahku dan menepuk pundakku.

Hyung, maaf,”lirih Byungjoo. Aku menepis tangannya yang di pundakku. Emosiku naik ke ubun-ubun. Hatiku sangat sakit melihat Mama menganak-emaskan anak angkatnya, Byungjoo, daripada aku yang anak kandungnya. Aku merasakan air mataku sudah di ujung. Dengan langkah kasar aku berbalik dan menuju kamarku.

Aku mengambil koper hitam dan ransel besar di lemariku. Barang-barang di lemariku kumasukkan dengan kasar ke koperku. Kumasukkan barang-barangku yang lain ke tas ransel. Kuganti bajuku dengan baju hitam-hitam ditambah hoodie abu-abu. Dengan emosi penuh, aku melangkah keluar rumah membawa barang-barangku tersebut.

Hyung mau kemana?”tanya Byungjoo sambil menarik tanganku –yang lagi-lagi kutepis.

“Aku membencimu, Kim Byungjoo. Aku amat membencimu,”desisku lalu melangkahkan kakiku keluar rumah dan bersumpah tidak akan pernah kembali.

~ 1984, Amadeus ~

to be continued

Advertisements

4 thoughts on “[Fanfiction] Alphabet Series — A_madeus (1/2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s