[Fanfiction] Alphabet Series — A_madeus (2/2 END)

Amadeus by artfantasy

||the A story from Alphabet Series with Amadeus by alphastee || Starring Kim Hansol (Hansol Toppdogg), Kim Byungjoo (B-Joo Toppdogg), and Song Minwoo (OC’ team) || Angst-AU-Family || Two Shoot ||

 

Inspired from AmadeuS (1984), story about the envious Antonio Salieri to Wolfgang Amadeus Mozart. Respectly credit to producer of this amazing movie, Saul Zaentz.

Mr. Zaentz, sorry I changed your story-plot but thank you for inspiring me.

  

Special credit to missfishyjazz @ artfantasy for the awesome cover ❤

   Why though he died but his name is still around? I’m still here but no one remember me 

part 1

~ 1984, Amadeus ~

“Hari itu aku meninggalkan rumah. Aku pergi ke gedung tua dimana ada piano di dalamnya. Aku selalu latihan sendirian di sana. Berlatih keras pagi dan malam dan mengabaikan fakta bahwa sekeras apapun aku berusaha, tetap ada Byungjoo. Aku sudah merapikan gedung itu sehingga nyaman untuk kutinggali. Jaga-jaga jika suatu saat aku melarikan diri dari rumah,”lanjut Hansol.

“Aku berlatih siang dan malam. Diam-diam aku mendaftarkan diriku di perlombaan yang sama dengan Byungjoo,”Hansol berhenti sejenak untuk mengambil nafas.

“Lalu?”tanya Minwoo perlahan. Hansol hanya diam menatap Minwoo nanar.

~ 1984, Amadeus ~

Suatu hari aku pergi keluar untuk mencari angin segar.Berjalan-jalan di tengah kota kurasa bukan sesuatu yang buruk. Melihat aktifitas kota kurasa mampu memberikanku inspirasi. Lagipula sudah lama aku tidak keluar dari gedung itu.

Namun seharusnya aku tidak keluar, atau bahkan tidak keluar lagi sebelum pertandingan itu.

“Hansol hyung?”sial. Suara ini. Aku hanya terdiam di tempatku.

HYUNG!”panggil suara itu lagi. Aku terpaksa menoleh dan melihat sosok itu menatapku.

Kim Byungjoo.

Dia langsung tersenyum melihatku menoleh dan berlari ke arahku. Dan bodohnya aku tidak kabur darinya hingga tangan putih susunya menyentuh pundakku.

“Akhirnya aku bisa menemukan hyung! Aku membutuhkanmu untuk membuat melodi untuk kompetisi itu!”jeritnya dengan tersenyum ceria. Beberapa orang yang lewat di dekat kami langsung menoleh ke arahnya.

“Bisakah kita berbicara di suatu tempat? Suaramu menarik perhatian orang lain,”sahutku dingin. Byungjoo membalas ucapanku dengan tatapan heran.

“Hansol hyung? Ini dirimu? Hyung tidak pernah berbicara sedingin itu,”ucap Byungjoo sedikit tertawa canggung. Tangannya terlepas dari pundakku dan berganti mengelus tengkuknya.

“Kamu menyapaku ingin memintaku membantumu atau hanya sekedar menyapa? Jika pilihan kedua adalah alasanmu, maaf aku tidak punya waktu,”aku berbalik dan berjalan cukup cepat untuk menjauhi Byungjoo. Padahal aku begitu merindukan suaranya, merindukan permainannya,merindukan tingkahnya yang seperti anak kecil. Aku merindukan adik angkatku, Byungjoo.

Dan aku tidak pernah menyangka bahwa hari itu adalah hari terakhir aku melihat senyum kekanak-kanakannya di depanku.

~ 1984, Amadeus ~

“Hari kompetisi pun tiba. Syukurlah aku mampu membuat sebuah melodi tepat sebelum hari itu. Aku mendaftarkan diriku dengan nama samaran, Mad Light. Aku tampil sebelum Byungjoo. Sebelum naik ke atas panggung, aku sempat melihat Mama dan Byungjoo bersiap-siap di sebelahku. Mereka tidak tahu bahwa aku ada di sebelah mereka, karena aku memakai topeng hitam besar yang hanya menunjukkan mataku dari seluruh wajahku. Minwoo tahu apa yang mereka bicarakan?”Hansol memukul-mukul pegangan kursi, membuat Minwoo sedikit takut.

Belum sempat Minwoo menjawab, Hansol melanjutkan, “mereka menghina diriku! Ck, mereka menghina seorang Kim Hansol! Hahahahahahahahahahahahahahahaha! Mereka tidak tahu bahwa sekali mereka menghina diriku, tamatlah nyawa mereka!”teriak Hansol gila. Ia tertawa berkali-kali. Minwoo sudah biasa menghadapi pasien yang gila dan tertawa sendiri, namun saat mendengar tawa Hansol…..

.

.

.

Ia merasa takut. Ada sesuatu yang menakutkan dari tawa beliau.

“Han….Hansol-a, bisa kau lanjutkan? Ak..aku penasaran dengan kelanjutannya,”potong Minwoo sedikit gugup. Entah mengapa mendadak ia merasakan bulu kuduknya merinding dan keringat dingin menyerbu punggungnya. Hansol menatapnya tajam, membuatnya semakin gugup dan ketakutan. Bahkan menambah hawa dingin di kamar serba putih ini.

“Minwoo masih ingin mendengar kelanjutannya?”tanya Hansol dengan raut muka anak kecilnya kembali. Minwoo mengangguk kaku yang membuat Hansol menyunggingkan senyum menakutkan –setidaknya bagi Minwoo begitu.

“Baiklah, sampai mana tadi? Ah, sampai di backstage ya. Setelah mendengar ucapan mereka, aku tersenyum di balik topengku dan berjalan menuju panggung. Mereka akan menyesali perkataan mereka. Dan itu benar, mereka menyesalinya karena pertunjukanku mendapat tepuk tangan meriah dari seluruh penjuru gedung megah itu.”

“Dengan bangga aku membungkuk dan sedikit melirik sinis ke arah Byungjoo yang sudah siap tampil. MC saat itu memujiku berkali-kali. Kulihat sekilas Byungjoo sudah ketakutan karena ini panggung besar pertamanya. Aku melewatinya dan sedikit menyenggol bahunya kasar. Dia sempat menoleh. Mungkin dia mengenaliku karena bahuku yang sering disentuhnya. Dan aku jamin saat itulah terakhir kali Byungjoo mampu merasakan bahu hyung tersayangnya.”

“Merasa kepanasan, aku melepas topengku dan berjalan ke bagian atas yang sepi. Sambil menaiki tangga, aku mendengar permainan kekanak-kanakkan Byungjoo. Aku menyadari bahwa permainan Byungjoo itu berkaitan denganku. Dia merindukanku. Aku hanya tertawa kecil mendengar makna permainannya. Baru saja aku bersandar di balkon atas, penonton sudah bertepuk tangan meriah. Beberapa di antara mereka bahkan mengusap air mata mereka. MC tadi bahkan terus menerus bertepuk tangan hingga menepuk punggung Byungjoo pelan. MC…, ah tidak. Semua orang kehilangan kata-kata. MC memberikan microphone ke Byungjoo, mungkin ada yang ingin disampaikannya-”

“Hansol-a, jika semua orang menangis mendengar permainannya, apakah kamu tidak? Katamu kamu merindukannya dan Byungjoo berkata bahwa dia juga merindukanmu melalui permainannya kan?”tanya Minwoo –lagi-lagi memotong perkataan Hansol.

Hei Song Minwoo, yang di hadapanmu bukanlah teman sebayamu, melainkan seorang kakek-kakek sebayaan dengan ayahmu. Tidak sopan memotong ucapan mereka.

“Aku? Oke, aku bohong jika aku berkata tidak. Aku menangis bukan karena permainan bodohnya, namun sambutan yang dia bawakan,”Hansol menatap ke atas, menahan air matanya agar tidak tumpah.

“Memangnya apa yang dia ucapkan?”

~ 1984, Amadeus ~

“Kim Byungjoo-ssi, mungkin ada yang ingin Anda sampaikan?”

“Uh um…,”you got it stuck,Kim Byungjoo! I know you never bear to speak infront of public! Aku mengunyah permen karet rasa mint yang tadi aku bawa sambil menertawakan Byungjoo.

“Uhm, pertama-tama…. Kim Hansol,”aku tersedak saat mendengar namaku disebut. “Ah maksudku Hansol hyung, apakah dia ada disini?”tanya Byungjoo. Matanya bergerak dari ujung ke ujung (syukurlah bukan ke atas) mencariku  -mungkin?.

“Jika ada, aku ingin mengucapkan satu hal kepadanya. Hyung, aku tahu hyung paham musik. Jika hyung mendengar permainanku tadi, itulah yang ingin aku ucapkan padamu. Kumohon pulanglah, aku tidak bisa tidur dengan angin kosong di sebelahku,”aku merasakan air mataku mulai menggenang. Aku tidak bisa tidur tanpamu juga, Joo.

Hyung, permainanku tadi menjadi permainan terakhirku. Aku tidak ingin menjadi pianis terkenal jika hyung tidak bersamaku. Dimanapun hyung berada, aku merindukanmu. Semoga angin mampu menyampaikannya,”akhir Byungjoo sambil membungkuk cukup lama. Kulihat pundaknya sedikit naik turun. Aku tidak mampu melihatnya lagi. Aku bersembunyi di balik dinding pembatas balkon dan menangis di tengah kegelapan di sana.

Hyung juga merindukanmu, Joo. Sangat, sangat merindukanmu.

~ 1984, Amadeus ~

“Jujur aku menangis. Bahkan aku menelan permen karet yang sebelumnya aku kunyah kkk,”kekeh Hansol sambil terbatuk-batuk. Lagi-lagi Minwoo merasa gugup mendengar tawa Hansol yang berbeda dari biasanya.

“Namun tidak lama kemudian, pengumuman pemenang diumumkan. Kata para juri, aku dan Byungjoo seri. Awalnya. Namun setelah mendengar sambutan dari Byungjoo, juri memutuskan untuk memilih Byungjoo sebagai pemenang. What? Hanya karena sambutan dia bisa menang dariku? Ini lomba apa memangnya! Dasar juri tidak adil!”bentak Hansol sambil melempar vas bunga di dekatnya tepat 1 inci mendekati kaki Minwoo. Reflek, Minwoo langsung menyingkirkan kakinya. Hansol mulai berbahaya.

“Aku tidak rela! Bagaimana bisa anak yang hobi bermain-main itu mengalahkan aku yang bekerja siang malam?! Jika Tuhan ingin menciptakan sebuah musik masterpiece di dunia ini, mengapa melalui anak itu? Mengapa bukan aku, yang benar-benar bekerja keras?!”bentak Hansol lagi. Meskipun Hansol tidak melempar sesuatu, Minwoo terlonjak dari duduknya mendengar bentakan Hansol. Ini benar-benar kali pertama ia merasa takut dengan pasiennya.

“Hansol-ss-”belum sempat Minwoo memanggil pasiennya, sebuah gunting mendarat dengan cantiknya di dekat tangan Minwoo. Sangat dekat hingga menggores kulit Minwoo. Bukannya menarik tangannya sebagai bentuk reflek, Minwoo malah semakin ke tengah kasur. Keringat dinginnya bukan hanya menyerang punggungnya, namun seluruh tubuhnya.

“Minwoo sudah pernah kuperingatkan agar tidak memanggilku terlalu formal, kan?”sial, aku lupa. Minwoo melirik ke arah Hansol yang memainkan jari-jarinya sembari menatap Minwoo dengan tatapan gila.

“M…maaf, Sol-a,”ucap Minwoo tergugup.

“Masih ingin mendengar selanjutnya?”dan Minwoo hanya mengangguk perlahan.

~ 1984, Amadeus ~

Tunggu, bagaimana caranya Byungjoo menang? Sial!

Aku turun ke bawah dan mengacak-acak rambutku. Topeng yang sebelumnya kugunakan sudah kulempar entah kemana. Persetan jika identitasku terbongkar.

Aku bersembunyi di balik pilar terdekat dengan posisi Byungjoo. Gedung ini sudah cukup sepi dibandingkan tadi. Kulihat teman-teman sekelas Byungjoo mengerumuninya. Byungjoo yang tidak begitu menyukai keramaian hanya mampu tersenyum sambil memegang pialanya erat.

Yeah, piala yang harusnya menjadi milikku.

“Byungjoo-a, selamat ya!”

“Kim Byungjoo~  Selamat, bro!”

As expected, Byungjoo-a. Congratulation!”

Karena posisiku yang memang cukup dekat dengan Byungjoo, aku mampu mendengar ucapan selamat untuk Byungjoo. Ucapan-ucapan selamat yang harusnya menjadi milikku. Tanganku mengepal kuat. Emosiku benar-benar meminta untuk dikeluarkan. Aku ingin keluar dari gedung ini dan berhenti melihat pemandangan di depanku. Namun kakiku menolak untuk bergerak.

“Anak Mama, Byungjoo! Selamat, ya! Duh kakakmu itu tidak pernah mampu memenangkan kompetisi sebesar ini! Mama bangga padamu, Joo!”brengsek! Emosiku tidak bisa kutahan lagi. Akhirnya kakiku bisa diajak untuk beranjak dari tempat ini. Dengan langkah kesal aku berjalan keluar. Andai saja Byungjoo tidak pernah ada, andai saja.

Aku menyempatkan diri untuk ke mini market untuk membeli beberapa minuman beralkohol. Setidaknya, aku bisa melupakan hal ini walau hanya sedikit. Sebelum masuk mini market, aku merapikan rambutku yang tadinya seperti sarang burung.

Hei, aku dikenal sebagai ‘Hansol yang Tampan’. Bisa rusak imejku jika rambutku seperti orang gila.

Aku baru saja keluar dari mini market saat aku berpapasan dengan Byungjoo. Tangannya menyodorkan sebuah kopi dan, tunggu.

Joo menyodorkan pialanya?

Hyung,”panggilnya lirih. Aku memalingkan mukaku kesal. Entahlah, melihat Byungjoo sekarang membuatku muak setengah mati.

“Minggir,”balasku dan langsung berlalu mengabaikan Byungjoo.

Hyung! Hansol hyung!”teriaknya dan aku tetap mengabaikannya. Aku membencimu, Byungjoo. Andai kamu tidak pernah ada.

“Hansol hyung!”

~ 1984, Amadeus ~

Minwoo sudah tidak mendengarkan dengan serius cerita dari Hansol. Yang dipikirannya sekarang hanya bagaimana cara bisa melarikan diri dengan aman dari Hansol. Hansol kini bercerita tidak sambil duduk, namun berkeliling kamarnya. Setelah vas bunga, berikutnya gunting. Jika tiba-tiba Hansol mengamuk dan melempar barang, kemungkinan besar akan lebih berbahaya dari gunting dan nyawa Minwoo ada di ujung tanduk.

“Tidak kusangka bocah itu mengikutiku hingga ke gedung tuaku. Aku terkejut saat mendengar suaranya. Aku kira aku hanya berkhalusinasi, ternyata Byungjoo sudah di depan pintu dan menatapku lirih kkk. Baguslah, setidaknya aku tidak perlu susah-susah membawanya dan membunuhnya. Dia sudah datang sendiri ke tempat terakhirnya,”cerita Hansol sambil mengelus-elus permukaan meja kayu yang sedikit rusak. Beberapa paku mencuat dari kayu meja. Minwoo hanya mampu menjaga sikapnya.

“T..tempat terakhir? Kamu membunuhnya di gedung tua itu?”tanya Minwoo mencoba setenang mungkin. Hansol menarik kayu penuh paku dari meja tadi dan mendekati Minwoo.

“Tentu saja. Memang mau dimana lagi?”tanya balik Hansol dan duduk di sebelah Minwoo.

“Siapa tahu kamu membawanya ke tempat lain. Atau kamu ke rumahmu. B..bisa saja kamu membunuh Byungjoo dan Mamamu, kan? Mendengar ceritamu, aku menarik kesimpulan kalau kamu membenci Mamamu juga,”jawab Minwoo. Hansol memain-mainkan kayu di tangannya.

“Sepertinya, iya,”ungkap Hansol dingin.

“Lalu?”

“Aku tidak terfikir untuk membunuh Mama saat itu. Walau saat penangkapanku Mama mengeluarkan berbagai kata-kata kotor untukku. Untuk anak kandungnya,”ucap Hansol. Rahang Beliau menegang tanda bahwa Beliau menahan emosinya. Semoga dia tidak terfikir untuk membunuhku juga.

“Ng, Hansol-a, lanjutkan ceritamu dong,”pinta Minwoo tanpa sadar.

~ 1984, Amadeus ~

“Han…Hansol hyung?”aku sedikit terlonjak mendengar suara Byungjoo. Apa aku berhalusinasi? Aku menoleh dan melihat Byungjoo sudah ada di depan pintu dan menatapku lirih.

“Oh Byungjoo adikku! Kamu berkunjung? Duduklah, biar hyung membuatkanmu minuman favoritmu,”balasku sambil tersenyum palsu. Aku tidak melihat ada piala di tangannya. Yang ada hanyalah dua gelas kopi. Dari baunya kutebak adalah Americano dan Cappuchino. Byungjoo menarik sebuah kursi di dekatnya. Matanya terus terfokus ke padaku yang sedang berganti baju.

Hyu-

“Byungjoo-ahyungmu ini sedang berganti baju. Bisakah kamu tidak terus menerus menatapku?”pintaku sedikit risih. Byungjoo mengangguk pelan dan berbalik. Aku selesai memakai kaus putihku dan duduk di sebelah Byungjoo. Mendengar bunyi decitan kursi, Byungjoo menoleh dan menemukan diriku di depannya.

Hyung-

“Joo-a, kamu tidak punya kata-kata lain selain ‘hyung‘?”tanyaku sedikit bosan karena yang dia ucapkan dari tadi hanya hal yang sama. Byungjoo meringis pelan. Matanya menatap ke tiap ujung-ujung gedung ini. Aku baru menyadari bahwa Joo mengenakan soft lens berwarna biru terang.

“Hansol hyung.”

“Byungjoo-a.”

Kami menoleh dan tertawa karena kami memanggil secara bersamaan. Seperti biasa, Byungjoo tertawa seperti hanya dia di dunia ini. Dulu aku sangat menyukai tawanya. Namun setelah kekalahanku, aku muak mendengar tawanya.

Tenang saja, Hansol-a. Setelah ini kamu tidak akan pernah mendengar tawanya.

Hyung, ada apa?”tanya Byungjoo setelah berhasil menenangkan tawanya. Aku terkekeh pelan sebelum menjawab.

“Tidak, tidak begitu penting,”jawabku. Joo merengut dan mengeluarkan aegyonya.

“Ayolah, hyung.”

“Oke oke, kamu tidak perlu mengeluarkan aegyomu dengan mata birumu,”kataku sambil menunjuk mata birunya. Byungjoo terlonjak pelan dan tertawa canggung.

“Ngg, aneh ya?”tanyanya sambil mengusap-usap rambutnya yang sedikit basah.

“Jujur, nih? Kamu makin aneh, Joo. Sudah cukup rambut keritingmu, mengapa kamu memasang soft lens biru terang, hah?”ejekku menunjuk muka Byungjoo. Aku sendiri heran, butuh berapa lama untuk menata rambut keriting badainya itu.

“Hanya kali ini saja aku memakainya, kok. Kan tadi panggung terakhirku. Karena itu aku ingin tampil beda. Hyung tadi lihat penampilanku, kan? Andai saja hyung melihat penampilan sebelumku, wuh permainannya hebat banget. Kalau tidak salah namanya Mad…Light?”Deg. Byungjoo tidak tahu?

“Benarkah? Wah, hebat sekali dia hingga juara kompetisi di depanku ini memujinya,”ucapku.

“Tapi permainannya masih kalah daripada aku. Buktinya yang membawa pulang piala itu adalah aku, walaupun tadi aku buang karena harusnya itu milik hyung, sih,”jelasnya. Aku mengepalkan tanganku kesal. Jika kamu tahu bahwa Mad Light adalah hyung tersayangmu, apa kamu akan mengatakan hal yang sama, Joo?

Kulihat Byungjoo memegang perutnya sambil tertawa pelan.

Hyung, maaf. Duh aku tidak sempat makan sebelum pertandingan, sih,”ungkapnya. Aku menatap Byungjoo muak, sama seperti saat bertemu Byungjoo di mini market tadi.

“Mau makan? Tadi hyung sempat membeli beberapa makanan instan. Tunggu sebentar, ya,”aku bangkit dari kursiku dan berjalan ke satu sudut yang kusebut dapur (hei, aku tidak mungkin bertahan hidup dengan makanan langsung jadi setiap hari, kan?). Kukeluarkan beberapa bungkus ramyun dan mulai memasaknya. Kulirik Byungjoo yang sedang asyik menyeruput salah satu cup kopi yang dibawanya tadi. Diam-diam kukeluarkan sebuah bubuk dan menaburnya ke dalam mangkuk Byungjoo.

‘Jika saja kamu tidak pernah ada, Joo. Namun kamu sudah terlanjur ada, bagaimana kalau kamu menghilang saja?’  pikirku sambil menaburkan semua bubuk itu. Air mataku menggenang di mataku, membuat keduanya perih di ujung-ujungnya.

Aku membenci kekalahanku. Aku membenci sikap Mama yang menganak-emaskan anak angkatnya daripada aku. Aku membenci saat Papa kecelakaan pesawat. Aku membenci diriku yang tidak bisa menjadi yang Mama inginkan. Aku membenci Byungjoo. Aku membenci Mama. Aku membenci semuanya. Aku benci. Aku benci.

Aku kembali membawa dua mangkuk ramyun di tanganku. Byungjoo langsung bersorak senang. Tangannya buru-buru mengambil sumpit baru di atas meja. Aku hanya bisa tersenyum melihatnya. Dia benar-benar lapar. Baguslah.

Begitu mendapatkan ramyunnya, Byungjoo langsung berteriak dan bersiap memakannya.

“Ekhem, Byungjoo-a….,”Byungjoo berhenti menyumpitkan ramnyunnya dan menatapku. Aku menatapnya penuh arti dan Byungjoo mengerti arti tatapanku.

“Baiklah, hyung. Aku berdo’a dulu,”ucap Byungjoo akhirnya lalu menengadahkan tangan. Selesai berdo’a, Byungjoo memisahkan sumpitnya dan mulai menikmati makanannya.

Lebih baik kamu menghilang, Joo. Lebih baik kamu tidak ada lagi. Aku membencimu. Aku membencimu. Pergilah untuk selamanya, Joo.

Aku bangkit dari kursiku dan memakai jas yang tadi kugunakan. Kucari topeng panjang yang sama seperti yang tadi aku gunakan. Syukurlah aku membeli dua. Jadi walaupun aku sudah membuang yang satunya, masih ada cadangan.

Aku kembali dengan topeng di tanganku. Kuperhatikan Byungjoo mulai kesusahan menikmati ramyunnya.

“Ukh,”rintih  Joo. Sumpit di tangannya sudah terjatuh menyentuh lantai. Kini tangannya sibuk meremas jantungnya. Ia meronta-ronta hingga tanpa sadar menyenggol mangkuknya. Rintihannya keluar berkali-kali, dan aku bahagia melihatnya.

“Joo, kamu kenapa?”tanyaku pura-pura khawatir. Byungjoo terjatuh dari duduknya. Beberapa darah keluar dari mulutnya. Tangan kirinya memegang tanganku erat.

Hy…hyung….,”dia tidak mampu menyelesaikan ucapannya. Darah terus keluar dari mulutnya. Matilah kau, Kim Byungjoo.

“Iya, Byungjoo-ssi?”balasku dengan bahasa formal. Aku meraih topeng tadi dan menunjukkannya kepada Byungjoo. Matanya terbelalak melihat topeng di depannya.

“Mm…Mad L..Light,”ucapnya susah payah.

“Iya, kenapa? Kamu terkejut karena hyungmu tersayang ini adalah Mad Light yang kamu kalahkan tadi? Iya, Joo?” aku mengelus wajah Byungjoo dan menyeringai.

Beberapa tetes air mata keluar dari mata biru Byungjoo. Entah karena menahan sakit, atau mengetahui bahwa di depannya adalah Mad Light, atau mengetahui fakta bahwa dia akan meninggal, atau ketiga-tiganya. Seringaiku semakin lebar.

Hyu- ARGH!”teriak Joo sambil terus menerus memuntahkan darah. Aku menidurkan Byungjoo di pangkuanku, sama seperti yang dipintanya dulu.

Hyung, jika aku meninggal nanti, aku ingin meninggal di pangkuanmu. Pangkuanmu adalah pangkuan ternyaman yang pernah aku rasakan, hyung.

Aku tersenyum mengingat perkataannya itu. Byungjoo terus menerus mengerang, bahkan tangannya meremas-remas badanku. Aku mengelus rambutnya tenang. Ah, jadi inikah rasanya saat melihat musuhmu meninggal di depanmu? Menyenangkan sekali.

“Bagaimana rasanya, Joo? Pangkuanku adalah pangkuan ternyaman yang pernah kamu rasakan, bukan? Tidurlah, Byungjoo-ku tersayang,”ucapku dengan tersenyum kemenangan. Aku yakin Byungjoo memiliki banyak hal yang ingin dia ucapkan, namun sakit yang dirasakannya menghentikan segala ucapannya.

“Tadi benar-benar pertunjukan terakhirmu, ya. Benar-benar pertunjukan yang hebat. Ironinya, melodi yang kamu mainkan tadi untuk kakakmu ini. Kakak yang kamu kalahkan tadi. Bagaimana rasanya mengalahkan kakakmu sendiri, hmm? Bagaimana rasanya menjadi anak angkat yang disayangi Mama melebihi anak kandung Mama, Joo?”ucapku. Air mataku menggenang di pelupuk mataku, menolak untuk dikeluarkan dan memilih untuk menyakiti ujung mataku. Tanganku merogoh meja, mencari pisau daging yang tadi kubawa bersamaan dengan topeng hitam. Kuelus-eluskan pisau itu di perut Byungjoo.

Hyungh… Jang..anh…. Maafkahn Byungjoo,”lirih Byungjoo. Aku menatap Byungjoo tajam.

“Jangan? Maaf? Itu yang kamu ucapkan? Kamu kira dengan dua kata itu aku akan berhenti membuatmu menghilang, hah?!”aku menusuk perut Byungjoo dengan pisau. Darah langsung keluar dari mulutnya. Aku memutar pisau daging di perut Byungjoo.

“Kamu pikir begitu, hah?! Sejak kapan ada pembunuh yang berbelas kasihan pada korbannya, HAH?!”bentakku. Tanganku berhenti memutar pisau daging dan mengarahkan pisau daging itu ke dada Byungjoo. Aku terus menerus berbuat gila pada tubuh Byungjoo. Melampiaskan semua sakit hati yang kurasakan. Menciptakan goresan-goresan darah di tubunya hingga tidak sadar bahwa Byungjoo sudah tidak bernyawa.

Lebih tepatnya aku sadar tidak sadar, sih. Aku sempat mendengar Byungjoo meminta maaf sebelum berteriak untuk terakhir kalinya.

Setelah puas membunuh Byungjoo, aku meraih handphone-ku dan menghubungi polisi.

Yeoboseyo?”

“Tolong datang ke gedung xxx. Aku menemukan korban pembunuhan.”

“Pembunuhan? Baiklah, tapi kami sedang berbicara dengan siapa?”

“Anda sedang berbicara dengan pembunuhnya. Cepat datang atau tubuh korban tidak teridentifikasi lagi.”

~ 1984, Amadeus ~

“Mama ternyata datang saat penangkapanku. Beliau memaki-makiku dengan kata-kata kasar. Bahkan beliau juga menyumpahiku dengan sumpah serapah. Ck,”Hansol terus memainkan kayu di tangannya hingga menciptakan beberapa luka. Minwoo hanya bisa sedikit menggeser tubuhnya, berusaha sedikit menjauh dari Hansol.

Namun sialnya, Hansol memukulkan bagian yang penuh paku ke paha kiri Minwoo. Teriakan keluar dari mulut Minwoo. Beberapa tetes darah menetes di balik celana hitamnya.

“Kenapa, Minwoo-a? Sakit?”ucap Hansol tenang sambil mencabut kayu tersebut dan memukulkannya ke punggung Minwoo. Teriakan keluar lagi dari mulutnya.

Adegan tersebut terus terulang. Hansol bertanya mengapa, menusukkan kayu ke Minwoo, lalu teriakan muncul. Terus begitu hingga semua bagian tubuh Minwoo sudah berlumur darah dan nyawa Minwoo sudah meninggalkan tubuhnya.

~ 1984, Amadeus ~

Ck, sudah kuduga akan seperti ini. Aku menatap jasad Minwoo di depanku. Aku merasakan de javu.Melihat jasad Minwoo membuatku teringat dengan rupa Byungjoo setelah aku membunuhnya 32 tahun yang lalu. Aku mendengar pintu kamarku diketuk keras. Kulemparkan berbagai barang ke pintu sebagai peringatan.

Hyung,”aku menoleh saat mendengar suara Byungjoo. Kulihat Byungjoo di dekat jendela. Wajahnya begitu sedih. Air mata menetes dari matanya. Aku berjalan ke arahnya dan mengulurkan tanganku.

“Byungjoo-ku, kamu jangan menangis. Byungjoo…. Byungjoo,”ucapku terus menerus. Aku tidak sadar bahwa aku sudah di ujung jendela. Bayangan Byungjoo tetap menangis di hadapanku. Aku mendekatinya namun aku terjatuh. Kurasakan beberapa tulangku patah sebelum nyawaku pergi begitu saja.

Hyung,”panggil Byungjoo lagi, namun kali ini dengan tersenyum bahagia. Aku tetap mendekatinya, meninggalkan tubuhku dan keramaian di belakangku. Perlahan tanganku berubah menjadi seperti saat aku muda dulu. Byungjoo menarik tanganku dan mengajakku ke suatu tempat.

Hyung! Ayo bermain piano bersama lagi!”

~ 1984, Amadeus ~

AKHIRNYA SELESAI! Ini fanfic pertama yang aku buat lebih dari sebulan-_- Duh efek sibuk ngurus SMA ya gini ini-_-

Kayaknya aku bakal buat semacam behind the scene buat si kampret Amadeus ini-_-

Jujur begitu nulis kalimat terakhir langsung loncat-loncat di atas kasur-______-

Okelah, terima kasih untuk semua yang sudah membantu. Dari film Amadeus, Topp Dogg – Top Dog MV, film-film bunuh-bunuhan, novel-novel psikopat, missfishyjazz dari art fantasy atas covernya yang keren (maaf baru kepake sebulan setelah request-_- salahkan writers block-_-). Terima kasih sebanyak-banyaknya ^^

It has been me, alph in this beautiful month. Gamsahamnida~~~~~~~


.

.

bonus part

Maknae-a! Kemari kau! Apa salahku hingga aku jadi psiko dan  membunuh my baby honey Byungjoo, hah?!”

“Hansol hyung maaf!!!!!!!!!!!!!!!”

.

.

Karena menistakan maknae/leader adalah kebahagiaan para author.

Advertisements

5 thoughts on “[Fanfiction] Alphabet Series — A_madeus (2/2 END)

  1. Authornim!!!!! Believe it or not, your story is soooooo DAEBAK!!!!!
    Nggak kebayang rasanya jadi Hansol. Apalagi dengan perlakuan ibunya yang lebih sayang sama Byungjoo. Tapi sebetulnya Hansol juga sayang sama Byungjoo kan??? Demi apapun, aku hampir nangis waktu baca bagian Hansol mau bunuh Byungjoo di gedung tua itu. Byungjoo yang amat sangat polol itu mati di tangan kakaknya yang mengayanginya???? This story is so unpredictable…
    Good job bikin aku hampir nangis author! Good job!! ^~^b

    1. Aaaa aku juga ikut nangis:’) makasih udah komentar, kamu yang komen pertama kali disini hiks hiks :”)
      Hansol sayang Byungjoo, tapi dia kesel sama Byungjoo yang diperlakukan lebih baik sama ibunya. Yaaa, kasian juga sih jadi Byungjoo. Nggak tahu apa2 tiba2 dibunuh sama kakak tercintanya hwhw.

      *sodorin tisu* makasih ya btw :’))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s