[Fanfiction] Alphabet Series – B_ecause

Because

 

B E C A U S E

The story from Alphabet Series

 

by Alphastee

 

starring Kim Jongdae and you

 

Fluff, Romance, Vignette

 

 

“Because he’s himself”

 

read the other letters

Face It || Waffle || Hyung || AmadeuS (A for part 1, S for part 2) || Story Between the Wizard

 


 

Karena dia adalah dirinya, Kim Jongdae yang jahil.

 

“Kim Jongdae! Kembalikan kacamataku!”dia tertawa melihatku kesusahan menggapai-gapai angin kosong.

 

“Gunakanlah telingamu, nona! Apa kamu tidak dapat mendengar suara langkahku?”ejeknya sambil berlari memutar di sekitarku, membuatku semakin kesusahan.

 

“Jongdae-a…. Kumohon, berikan kacamataku,”aku merasakan air mataku sudah menggenang di pelupuk mataku. Kepalaku teringat akan rumor si jahil Kim Jongdae di depanku.

 

Kim Jongdae yang jahil. Kim Jongdae yang selalu membolos pelajaran matematika. Kim Jongdae yang mejanya penuh dengan fotokopian pelajaran. Kim Jongdae yang suka mengambil barang orang lain. Kim Jongdae yang lebih sering ke ruang BP daripada kelas.

 

Kim Jongdae yang seperti itulah yang mengambil kacamataku sekarang.

 

“Hei, Eunbi! Ayolah, apa kamu tidak dapat mengetahui posisiku hanya dari suaraku?”ejeknya lagi. Aku tahu. DIa di arah jam 3, aku yakin itu. Masalahnya, berapa jauh jarakku dengannya dan apakah aman jika aku berjalan ke arahnya? Aku menoleh ke arah yang kupastikan dia-ada-disana. Mencoba mengetahui jawaban dari pertanyaanku. Namun nihil, semuanya buram.

 

Ah, aku benar-benar membenci Jongdae sekarang.

 

Perlahan-lahan aku mencoba berjalan ke arahnya. Berharap dia tidak merubah posisinya barang satu sentimeter saja. Tanganku menggapai-gapai di udara, berharap aku bisa merasakan bahunya.

 

Karena terlalu fokus mencari bahunya, kakiku tidak hati-hati hingga tersandung akar pohon yang mencuat. Aku kehilangan keseimbanganku dan terjatuh. Namun belum sempat badanku menyentuh tanah, sebuah tangan menahan tubuhku sementara tangan lainnya memasang kacamataku.

 

“Maaf, kamu tidak apa-apa?”aku mendongak dan menatap mata Jongdae.

 

Iya, dia Kim Jongdae yang jahil. Namun berkat kejahilannya, aku bisa jatuh cinta padanya.

 

—–

 

Karena dia adalah dirinya, Kim Jongdae yang mau belajar dari awal.

 

“Maaf, Bu. Saya terlambat,”ucap Jongdae sambil mengelap peluh di dahinya. Tangannya bertumpu pada pintu kelas yang tadi dibukanya dengan sangat keras. Mengagetkan seluruh penghuni kelas, entah karena bunyi pintu atau eksistensinya di kelas matematika hari ini.

 

“Jongdae-ssi? Tumben kamu datang ke kelas. Akhirnya Ibu bisa melihatmu di kelas Ibu kkk,”ucap Kim songsaengnim. Beliau mengizinkan Jongdae untuk duduk di bangku kosong di sebelahku. Padahal biasanya beliau akan menghukum siapa saja yang terlambat pelajarannya. Namun karena kali ini pelakunya adalah Kim Jongdae, murid yang selama 3 bulan ini tidak ada di kelas, Beliau memakluminya. Sudah syukur dia mau datang.

 

“Eunbi, pinjam catatanmu,”pinta Jongdae. Tanpa menunggu jawaban dariku, tangannya langsung menyambar buku catatanku dan mencatat hal-hal penting dari situ sembari mendengarkan penjelasan Kim songsaengnim. Aku hanya mengedikkan bahu.

 

Pelajaran kini sudah berakhir. Aku merenggangkan badanku sejenak lalu menoleh ke arah Jongdae. Dia tertidur, tentu saja. Dia adalah Kim Jongdae yang malas. Aku berniat mengambil buku catatanku, namun aku terpaku saat melihat catatan yang ditinggalkannya -mungkin- sebelum dia tertidur.

 

Aku pinjam bukumu. Jika aku tertidur, biarkan saja. Oh iya, besok dan besok lagi aku akan meminjam bukumu lagi. Bukumu lebih menyenangkan untuk di pelajari daripada mendengarkan ocehan guru. Lain kali ajarkan aku dan bantu aku agar bisa naik kelas ya. Aku tertinggal banyak hal semester ini.

 

Aku tersenyum membacanya. Sempat-sempatnya dia menulis catatan sepanjang itu sebelum tertidur. Aku melepas almamaterku dan memasangnya di punggung Jongdae. Diam-diam bersyukur dalam hatiku.

 

Mungkin dia ingin berubah. Syukurlah, setidaknya aku tidak perlu mengkhawatirkan dia, apakah dia akan naik kelas atau tidak.

 

—–

 

Karena dia adalah dirinya, Kim Jongdae yang diam-diam menghanyutkan.

 

Aku menendang batu kecil di depanku. Merutuki diriku yang tertidur di perpustakaan kota hingga selarut ini. Ujian semakin dekat dan aku ingin belajar lebih giat. Aku juga merutuki tindakanku memakaikan almamaterku yang hangat ke Jongdae tadi. Tubuhku kini menggigil diterpa angin Siheung (note = Siheung adalah kampung halaman Chen, terletak di provinsi Gyeonggi).

 

Tinggal melewati gang kecil ini maka aku akan sampai di depan rumah. Perlahan aku memasuki gang kecil di depanku. Hatiku menjadi was-was saat melihat siluet beberapa orang dewasa di depanku.

 

Aku tahu mereka siapa. Para preman yang sering berkumpul di gang ini. Beberapa kali mereka mengganggu jalan di depan rumahku, seperti merusak lampu jalan atau fasilitas lain. Aku menundukkan kepalaku dan berdo’a agar diberi perlindungan oleh Yang Maha Kuasa.

 

“Hei, cantik,”salah satu dari mereka mendekatiku dan mencoba menggodaku. Aku mengelak dengan takut dan terus berjalan. Kurasakan mereka berusaha untuk mengepungku. Aku mempercepat jalanku namun mereka lebih cepat mengepungku.

 

Kini aku terperangkap di antara pria-pria biadab.

 

“Wah, ada gadis cantik sendirian, nih.”

 

“Sudah lama aku tidak merasakan gadis muda.”

 

“Woah, lihat badannya. Ckckck, menakjubkan.”

 

Aku menutup indraku rapat-rapat. Tidak ingin mendengar ucapan mereka. Beberapa tangan jahil mulai mengelus badanku. Bukannya aku tidak ingin melawan, namun tubuhku benar-benar membeku sekarang. Ketakutan merajaiku dan membuat tungkai kakiku bergetar.

 

“J..Jang-“

 

“AKH!”teriak salah satu dari mereka. Kepalanya mengeluarkan darah di balik tangan yang mengelus kepalanya.

 

“Hei, jangan berani menyentuh dia!”aku mengenal suara sok ini. Mataku menangkap sosok dengan seragamku dan almamaterku tersampir di bahunya.

 

Tidak mungkin itu dia.

 

Sosok itu mendekat. Wajahnya semakin jelas kini. Benar itu dia. Jongdae. Rahangnya mengeras dan tatapannya begitu tajam.

 

Mengetahui ada yang berusaha melawan mereka, preman-preman yang mengepungku berjalan dengan amarah menuju Jongdae. Salah satu dari mereka tetap di dekatku untuk memastikan aku tidak pergi kemana-mana.

 

“Ada yang berani mengganggu kita rupanya. Hei, kalian tahu apa yang harus kalian lakukan jika ada yang mengganggu kita, kan?”kata sang pemimpin preman. Anak buah di belakangnya langsung menyerang Jongdae habis-habisan.

 

Aku pernah dengar jika Jongdae suka berkelahi, jadi mungkin tidak akan masalah jika ia berkelahi dengan preman-preman ini. Namun melihat betapa ganasnya preman-preman ini, mau tidak mau aku menutup mataku.

 

“AKH!”teriakan Jongdae membuatku membuka mataku dan berteriak memanggil namanya.

 

“Jongdae!”preman yang menjagaku langsung melemparku dengan kasar ke Jongdae. Tanpa kata-kata, mereka berlalu setelah beberapa kali menyempatkan diri menendangku dan Jongdae.

 

Tanpa kata-kata pula, Jongdae melepas almamaternya dan memakaikanya di bahuku.

 

You okay?”tanyanya penuh dengan nada khawatir. Aku mengangguk. Tanganku mencoba memegang bibirnya yang sobek di pinggir. Saat tanganku melakukan kontak dengan luka itu, Jongdae meringis sambil menjauhkan lukanya dari tanganku.

 

“Harusnya kamu mengkhawatirkan dirimu,”ucapku. Ia hanya diam lalu mengelus rambutku.

 

“Sudah seharusnya jika pria yang terluka seperti ini demi melindungi seorang wanita,”sahutnya kemudian.

 

“Tetapi setidaknya khawatirkan dirimu,”bentakku pelan. Dia terkekeh pelan sambil mencoba bangkit.

 

“Aku masih bisa bangun. Apa yang harus aku khawatirkan? Mari, aku antar kamu pulang,”tangan Jongdae menarik tanganku dan merangkul bahuku erat. Almamaterku masih tersampir di bahunya, sementara almamaternya di aku. Wangi tubuhnya mengelilingiku sekarang, membuatku merasa gila dengan wangi maskulinnya.

 

Aku tidak pernah tahu bahwa dia memiliki sisi seperti ini. Bagaimana dia sesungguhnya? Aku ingin mengetahui semua tentangnya.

 

—–

 

Karena dia adalah dirinya, Kim Jongdae yang penuh kejutan.

 

“Sudahlah, ayo ikut aku!”Jongdae menarik-narik tanganku. Mataku tertutup oleh sebuah kain panjang. Aku terpaksa pasrah mengikuti Jongdae. Semoga dia tidak macam-macam. Semoga saja.

Jongdae tiba-tiba berhenti, membuatku terbentur dengan punggungnya. Tangannya terlepas dari tanganku.

“Jongdae? Ini dimana?”tanyaku sambil menggapai-gapai depanku. Aku terkejut saat menyadari bahwa Jongdae tidak ada di dekatku.

“Jongdae?”panggilku. Kepalaku bergerak kesana kemari untuk menemukan kehadiran Jongdae, namun nihil. Mataku masih tertutup oleh kain yang aku yakin tidak boleh dibuka.

“Jangan dibuka sebelum aku perintahkan!”teriak Jongdae -kelihatannya- dari bawah. Aku tahu bahwa aku ada di atas, karena aku merasakan dibawa naik oleh Jongdae. Aku menurut saja, walau aku belum menyerah mencari Jongdae.

“Yak! Sekarang bukalah matamu!”teriak Jongdae. Aku melepas kain di mataku dan menggantikan posisinya dengan kacamataku. Mataku langsung disambut dengan hamparan taman dengan lampu mengelilinginya. Di tengah taman tersebut, ada Jongdae dengan microphone dan gitar.

“Hei Byun Eunbi! Dengarkan dari sana, Ok?”ucapnya melalui mic. Aku mengangguk dan sedikit tertawa pelan. Perlahan Jongdae memetik senar gitarnya, menciptakan sebuah melodi yang tidak asing di telingaku.

B.A.P – With You.

Aku tersentuh saat mendengar bait demi bait lagu tersebut. Aku ingat saat SMA dulu Jongdae pernah bertanya bagaimana prosesi lamaran impianku. Aku menjawab sejujur-jujurnya dan Jongdae mampu merealisasikannya sekarang.

.

“Eunbi-a. Jika suatu hari kamu dilamar, bagaimana lamaran yang ingin berkesan untukmu?”

Kita masih sma, kenapa harus mikirin lamar-lamaran segala, sih?”

“Ih, jawab aja napa.”

“Baiklah. Aku ingin di taman yang dihiasi lampu-lampu cantik, lalu dinyanyikan lagu BAP-With You. Kurasa itu cukup berkesan.”

.

Aku benar-benar terharu sekarang. Kami berdua memang tidak berpacaran, karena masing-masing yang sibuk. Setelah SMA kami berpisah begitu saja tanpa kontak apapun. Baru setelah sekitar 5 tahun ini aku dan dia bertemu dan akrab lagi. Tidak kusangka dia menjadi penyanyi bertalenta di berbagai show. Aku terlalu sibuk bahkan untuk meluangkan waktu untuk menonton TV.

Kuakui, aku merindukannya. Aku sudah menduga bahwa dia memiliki perasaan yang sama denganku. Aku menyayanginya dan dia sepertinya menyayangiku. Namun aku dan dia sama-sama berusaha menahan semuanya dan menganggap kami hanya bersahabat baik.

Suara Jongdae memang indah. Hanya orang gila atau tuli yang mengatakan suaranya buruk. Namun karena dulu ia anak nakal, tidak ada satu orang pun yang mau repot-repot mendengarnya. Kecuali aku.

Aku terhanyut dengan permainan Jongdae hingga tidak sadar lagu sudah berakhir. Jongdae hanya menatapku jahil dan membiarkan dirinya mendapat tatapan kesal -yang pura-pura- dariku.

“Byun Eunbi! Kamu bisa dengar?!”teriaknya tiba-tiba. Belum sempat aku menjawab, dia sudah melanjutkan.

Sama seperti kebiasaannya dulu.

“Kamu tahu aku bukan tipe orang yang romantis. Aku tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan perasaanku kepadamu. Aku anak nakal, dan semua orang tahu itu. Namun kamu mau membantuku keluar dari masa kenakalanku. Hei Byun Eunbi! Mulai sekarang margamu bukan Byun lagi. Izinkan aku mengganti margamu dengan margaku!”aku terkejut mendengar ucapannya. Lampu taman berubah sedikit gelap, menyisakan lampu di sekitar Jongdae. Membuat sosoknya yang terbalut kemeja putih semakin mempesona.

“Jawablah!”pintanya -yang lebih mirip perintah. Aku kehilangan semua kekuatan di kakiku. Aku terkejut bahwa orang yang kutunggu selama ini melamarku. Aku menangis bahagia di atas, membiarkan teriakan Jongdae yang meminta jawaban. Aku terus menangis hingga tidak sadar Jongdae sudah di sampingku membawa sebuah cincin.

“Hei, menikahlah denganku,”ucapnya lagi lebih pelan. Aku mendongak menatap matanya, membiarkan diriku tenggelam dalam mata teduhnya sebelum menjawab.

“Iya”

——

epilog

Karena ia adalah dirinya. Kim Jongdae, yang merubah margaku menjadi Kim.

“Saudara Kim Jongdae. Bersediakah Anda mendampingi saudari Byun Eunbi dalam suka maupun duka?”

“Tentu saja aku bersedia.”

“Saudari Byun Eunbi. Bersediakah Anda mendampingi saudara Kim Jongdae dalam suka maupun duka?”

“….”

“Eunbi jawablah”

“I do”


KKEEEEEUUUUUTTTTTTT UWOOOOOOOOOOOO~~

AKHIRNYA BISA MENGUNJUNGI WORDPRESS SETELAH LOS YANG ASDFGHJKL

…..nggak ngebetein sih LOSnya._. Ketemu gebetan baru juga kkk~ (soal gebetan baru bakal aku bahas kapan-kapan)

Dan karena aku sudah selesai LOS, aku mulai memasuki masa libur lagi uyee~ :333

Doain aja rajin ngepost Alphabet Series biar ndang kelar-_-

.

Btw itu Byun Eunbi nama korea Alph._. Dan aku bener-bener pingin dilamar kayak gitu. ISN’T THAT SO SWEET HAH;-; Kak kuharap kamu jodohku /plak

.

OK lah, sudah ini aja’-‘) aku udah mulai ngantuk-_- See ya! ^^

 

Advertisements

3 thoughts on “[Fanfiction] Alphabet Series – B_ecause

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s