[Fanfiction] Alphabet Series – I_ce Baby

Ice Baby

Ice Baby

Romance, Failed-Fluff, AU, Vignette

Jang Hyunseung (Beast) and Lee Harin / Queen (OC)

Kim Sunggyu (Infinite) as subcast

Sorry

-alphastee, 2014-

“Queen, wait! Ada yang ingin aku bicarakan”

Apa?”

Oh, itu… Sorry, but… would you be mine?”

—–

Queen, aku heran sama kamu. Bisa ya kamu betah sama dia’

Aku menatap layar ponselku kesal. Huh, mentang-mentang punya kekasih yang bagus. Dengan emosi aku membalas pesan dari sahabatku tercinta, Lee Nara. Sesekali aku menatap pria di depanku yang serius memperhatikan layar gadget-nya.

Selesai mengetik balasan, aku meletakkan ponselku di depan. Sedikit mendekati pria di depanku. Sehingga jika ada notifikasi, si pria-dengan-gadgetnya-di-depan-yang-sebenarnya-adalah-kekasihku menoleh kepadaku walau hanya sedetik.

Sudah hampir satu jam dan kekasihku -Hyunseung- hanya menatap layar ponsel atau iPad miliknya. Dia tidak mengeluarkan suara apapun, kecuali suara dari gadget sialan miliknya. Ingin sekali aku mengambil karaoke set milik tetanggaku dan berteriak kencang di telinga Hyunseung.

‘Hello, Jang Hyunseung. Kamu kesini ingin pamer gadgetmu, berpacaran dengannya, atau ingin menemuiku? Kekasihmu itu aku bukan benda elektronik’

Namun itu tidak mungkin mengingat tetanggaku sudah menjual set itu. Haaah.

Queen! Queen! There’s new notification!

Aku menoleh ke Hyunseung sebelum memperhatikan notifikasi yang masuk ke ponselku.

….dan kembali mendengus kesal lantaran kekasihku tercinta tidak memberikan respon apapun. Aku mengambil ponselku dan membaca balasan Line dari sahabatku tadi.

‘Queen, you deserve for another perfect man. I mean, hello~ You can date a boy idol. Not a living-stone like him’

Aku tertohok membaca balasannya. Membuat otakku memikirkan alasanku menerima si living-stone-Jang-Hyunseung beberapa bulan yang lalu.

Sorry, but…. Would you be mine?

Apa?”

Jadilah kekasihku, Lee Harin”

Aku mengacak rambutku kesal.

Tuhan, izinkan aku memutar waktu di saat Hyunseung mengajakku berpacaran. Izinkan diriku menolaknya waktu itu. Jika saja aku tahu bahwa dia sebeku ini, aku tidak akan jatuh cinta padanya.

Yeah, aku tidak bisa membohongi diriku bahwa aku sudah jatuh padanya sejak kami berdua satu tim untuk suatu tugas.

Ah aku sungguh menyesal sekarang. Jika begini ceritanya lebih baik kami tidak memiliki hubungan apa-apa.

Perlahan aku membalas pesan sahabatku.

Hell, you right. But I love him, though’

——

Aku sedang menyampirkan tasku ketika Hyunseung tiba-tiba memperangkapku di antara badannya dan meja.

“Ah! Astaga, kau mengagetkanku!”ucapku sambil mengelus dada. Hyunseung hanya menatapku dalam dan perlahan mendekatkan wajahnya. Memaksa wajahku untuk memerah dan jantungku memompa darah lebih kencang.

“Hei, Hyunrin! Jika ingin bermesraan, taman sekolah masih ada tuh!”celetuk salah satu teman sekelasku diikuti tawa dari teman-teman yang masih di kelas. Aku yakin wajahku kini sudah sangat merah. By the way, Hyunrin adalah singkatan dari namanya, Jang Hyunseung, dan namaku, Lee Harin. Queen hanyalah nama panggilan karena aku berasal dari keluarga bangsawan -katanya. Padahal aku benci dipanggil Queen. Aku tidak ingin diekslusifkan.

“Harin-a, ada yang ingin aku bicarakan denganmu,”kata Hyunseung yang lebih mirip perintah. Inilah salah satu alasanku jatuh cinta dengan Hyunseung.

Selain keluargaku, hanya dia yang memanggilku dengan nama asli.

Bukan karena nada bicaranya yang selalu lebih mirip perintah dari jenderal ke anak buahnya.

“B..baiklah. Diman-“belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, sebuah kecupan mendarat di bibirku. Diiringi oleh teriakan histeris dari teman-temanku yang masih betah di kelas.

Kecupan itu hanya sekilas, namun sukses membuat jantungku serasa lepas dari tempatnya. Hyunseung menatapku dalam seraya berkata,

“Kamu menyesal berpacaran denganku?”

—–

Jang Hyunseung bodoh! Dia harus bertanggung jawab atas insomniaku malam ini! Bisa-bisanya dia mencuri first kiss-ku dan menanyakan hal itu. Aku bergulung-gulung di kasurku, membiarkan selimutku tergeletak di lantai secara mengenaskan.

Kamu menyesal berpacaran denganku?

Aku terhenti saat otakku memutar kembali kejadian itu. Tanpa sadar tanganku menyentuh bibirku.

Kamu menyesal berpacaran denganku?

Aduh, mengapa dia menanyakan hal seperti itu setelah mencuri kesucian bibirku, sih?

Tok.

Aku menoleh ke asal suara yang menginterupsi acara ‘Gulung-Gulung Frustasi’ku.

Tok. Tok.

Seluruh indraku langsung menemukan sumber suara. Seseorang sedang mengetuk pintu balkon kamarku. Aku segera bangkit, memakai mantel yang ada di kasur, lalu keluar -atau lebih tepat ke balkon kamarku.

Bukan hal baru jika Hyunseung tidak bisa tidur, ia akan datang ke balkonku dan mengetuk pintunya dengan tempo yang teratur.

Tok. Tok tok.

Mentang-mentang kamarnya tepat bersebrangan denganku.

“Aku mengganggu tidurmu, Princess?”tanya Hyunseung setelah aku keluar. Yeah, kamu mengganggu acara ‘Gulung-Gulung Frustasi’ku malam ini.

“Tidak – eh tunggu, Princess?“tanyaku saat menyadari Hyunseung tidak memanggilku ‘Harin’ seperti biasanya. Hyunseung mendekat dan mengelus rambutku.

“Memang ada yang salah dengan panggilan itu? Bukankah kamu memang seorang putri yang harus dijaga oleh pangeran Jang Hyunseung?”tanyanya lembut –and cheesy.

Cheesy,”  Aku yakin pipiku merona sekali kali ini. Hei Jang Hyunseung! Mengapa hari ini kamu membuat jantungku menggila, sih?

Saat aku masih asyik memikirkan alasan mengapa-si-patung-hidup-Hyunseung hari ini mendadak romantis, sebuah kecupan menghampiri puncak kepalaku.

“Hei, kamu tidak menjawab pertanyaanku tadi siang,”kata Hyunseung tanpa menjauhkan wajahnya dari kepalaku. Bisa kurasakan nafasnya meniup kulit kepalaku. Tangannya menarik punggungku agar mendekatinya.

“Y..yang mana?”tanyaku pura-pura lupa soal pertanyaannya. Kurasakan bibir Hyunseung tersenyum.

“Aku hanya menanyakan satu hal padamu tadi siang, Harin. Sejak kapan kekasihku menjadi pelupa, hmm?”candanya yang hanya mampu kujawab dengan diam.

“Aku butuh kata-kata, bukan sebuah diam, sayang,”sahut Hyunseung yang masih betah di puncak kepalaku. Tangan kekarnya semakin menarikku mendekati badannya. Aroma coklat yang manis menyeruak masuk ke dalam rongga pernafasanku. Membuat jantungku bekerja berkali-kali lebih cepat dari biasanya.

Inilah pesona tersembunyi Hyunseung selain wajah tampannya dan badan hug-ablenya. Wangi coklat yang menggoda dan membuatnya lebih -eheum- seksi.

“Harin?’suara Hyunseung membawaku kembali dari pesona Hyunseung.

“Oh, iya?”

“Apa jawabanmu?”aku mendongak saat menyadari suara Hyunseung serius seperti biasanya. Matanya menatap milikku tajam.

“Harus jujur?”aku mendapati Hyunseung mengangguk pelan.

“Tentu saja. Berkali-kali aku bilang padamu, lebih baik aku terluka karena kejujuran daripada bahagia karena dusta,”Hyunseung mengelus rambutku lembut dan mengeluarkan aura pemaksaan pada waktu yang sama. Aku menarik diriku dari rengkuhan Hyunseung dan menatap matanya dalam.

“Hyunseung-a, aku menyesal berpacaran denganmu. Berpacaran denganmu sama saja berpacaran dengan patung. Tapi aku sayang kamu, lalu bagaimana?”

Inginku sih bilang begitu. Namun-

“Oh, itukah yang kamu pikirkan? Tidak kusangka kamu sangat jujur, Princess,”-aku malah membeberkan semuanya. Aku menunduk takut saat Hyunseung menatapku antara marah dan kecewa. Tangannya yang masih menempel di punggungku bergetar kecil.

“Seung, ma-” cup.

Aku terkejut saat Hyunseung mencium keningku. Sama seperti tadi, Hyunseung tidak menjauhkan wajahnya setelah menciumku -mencium keningku.

“Tidak apa-apa, aku suka kamu jujur. Maafkan aku, ya. Good night,“ucapnya pelan lalu kembali ke kamarnya. Meninggalkan aku yang merasa bersalah karena terlalu jujur.

—–

Dan setelah kejadian itu, Hyunseung kembali menjadi patung hidup. Bahkan lebih parah.

Queen! Selamat ulang tahun!”teman sekelasku berebutan mengucapkan selamat saat aku baru saja tiba di kelas. Beberapa di antara mereka bahkan memberikanku hadiah kecil. Aku hanya mampu tersenyum. Fokusku bukan pada teman-temanku, namun laki-laki yang asyik dengan gadgetnya di pojokan kelas.

Siapa lagi kalau bukan Hyunseung.

Ck, bahkan dia kelihatan tidak peduli dengan ulang tahunku.

“Hei, hei, Harin baru saja tiba. Biarkan ia duduk di tempatnya dulu!”seseorang memelukku dari belakang, membuatku terkejut dan menghasilkan teriakan histeris gadis-gadis berisik di kelasku. Aku hendak marah kepada orang tersebut dan berbalik. Namun emosiku surut saat aku tahu siapa pelakunya.

“Sunggyu!”teriakku senang. Sunggyu mempererat pelukannya dan mendekatkan wajahnya. Sejenak aku sempat mendengar suara mendecit dari pojok.

Mungkin Hyunseung. Aku tidak peduli.

You don’t miss me, lil girl?”tanyanya lalu mengacak rambutku. Aku merengut kesal.

I do, but I wish you’ll stay longer there. Amerika cukup menyenangkan untukmu hingga tidak mengirimiku kabar, ya?”sindirku sambil memukul pelan lengan Sunggyu. Dia hanya tertawa pelan hingga matanya menghilang.

“Maaf, kamu tahu aku sibuk disana. Daddy never let me to touch my honey gadget,”kilahnya. Lagi-lagi ia mengacak rambutku. Hobi kok mengacak rambut orang, huh!

OmoQueen, dia siapamu?”jerit Nara diikuti gadis-gadis yang lain, sementara yang laki-laki memilih untuk di bangku masing-masing. Sebelum aku sempat menjawab, Sunggyu langsung memelukku -lagi!- dan menjawab,

“Aku tunangannya-“

BRAK!

Kami semua reflek menoleh pada suara yang menginterupsi jawaban Sunggyu.

Hyunseung.

Dia berjalan ke arah kami dan menarik tanganku kencang.

“Kamu siapanya?”tanyanya tenang walau sarat dengan emosi. Atmosfer kelas ini menjadi tegang….

Atau menakutkan? Hyunseung kini benar-benar menakutkan. Sunggyu hanya mampu mengusap tengkuknya sambil tertawa canggung. Padahal dari semua orang yang aku kenal, Sunggyulah yang paling pemberani.

“Oh, aku… aku Kim Sunggyu. Ak-“

“Tunangannya Harin?”potong Hyunseung. Secara tidak sadar ia juga mempererat pegangan tangannya dan menyakiti tanganku. Sunggyu tidak mampu menjawab, karena memang Sunggyu hanya bercanda saat menyatakan dia adalah tunanganku.

Aku harus menjelaskan hal ini sebelum terjadi pertumpahan darah di sini.

“Eum, Hyunseung-a. Kenalkan, sepupuku. Namanya Kim Sunggyu. Papanya adik dari Ibu,”jelasku sambil menahan emosi Hyunseung. Sunggyu mengulurkan tangan, entah meminta maaf atau memperkenalkan diri.

“Maafkan aku. Aku bukan tunangan Queen. Tidak mungkin aku akan menikahi sepupuku sendiri. Namaku Kim Sunggyu, dan kau?”ucap Sunggyu sambil tersenyum dan membiarkan matanya menghilang. Hyunseung menatapku tajam. Dari matanya aku tahu dia bertanya, ‘benarkah hal itu?’. Aku mengangguk lalu memberi isyarat untuk memperkenalkan dirinya balik.

“Aku Jang Hyunseung, Hyunseung. Aku kekasihnya Harin,”kata Hyunseung tanpa membalas uluran tangan Sunggyu. Dengan gerakan canggung, Sunggyu menarik kembali tangannya.

“Eum, kalau begitu aku ke kelasku dulu. Harin, kamu harus menceritakan semuanya padaku nanti,”pamit Sunggyu sambil mengacak rambutku -lagi- lalu pergi ke kelas barunya. Hyunseung dengan kasar melepas pegangannya dan duduk di tempatnya.

Queen, Hyunseung sudah mengucapkan selamat kepadamu?”tanya Nara saat aku berjalan ke bangkuku. Aku hanya mampu menggeleng. Tidak berminat untuk menjawab.

“Tuh kan, benar yang aku bilang. Harusnya kamu berpacaran dengan yang lebih baik. Bukannya patung hidup seperti Hyunseung!”sindir Nara yang sengaja dikeras-keraskan. Aku melirik ke Hyunseung yang tetap tenang.

“Percuma kamu sindir begitu, Hyunseung tidak menanggapi apa-apa. Toh aku tidak mengharapkan apapun dari dia,”ucapku.

Whatever, Queen.”

—–

“Oh, jadi Hyunseung tadi benar-benar kekasihmu?”komentar Sunggyu sambil mengunyah popcorn yang aku sediakan.

“Iya, memang kenapa?”tanyaku.

“Aku kira kekasihmu itu seorang artis atau popular boy. Not a nerd and a cold man like him,“komentarnya lagi. “Lagipula katamu dia tidak mengucapkan selamat ulang tahun kepadamu kan? Sudah putuskan saja, toh masih banyak laki-laki yang mengantri untukmu, Queen,”lanjutnya. Aku hendak menjawab ketika bunyi gedoran di jendelaku sampai di telingaku.

“Siapa? Maling?”teriak Sunggyu sambil bergegas mencari senjata. Gedoran masih terdengar dengan tempo yang sangat aku kenal.

Tok.

Tok Tok.

“Bagaimana bisa kamarmu didatangi maling, sih?”tanya Sunggyu panik. Ia bergegas menuju jendela namun masih sempat aku hadang.

“Tenanglah, aku tahu siapa pelakunya. Taruh lagi senjatanya,”perintahku sambil menunjuk remote TV dan bantal di tangannya.

“Benar kamu tahu?”

“Percayalah, aku sering digedor-gedor seperti ini,”Sunggyu memilih mempercayaiku dan menaruh semua senjata di tangannya. Aku berjalan ke pintu dan membuka kuncinya.

Tok.

Tok tok.

Hyunseung terus mengetuk pintuku walau dia tahu aku akan membukanya.

Iya iya, sebent-“ucapanku terhenti saat mendapati Hyunseung dengan setelan tuxedo hitam dan menyodorkan sebuah rangkaian bunga mawar putih.

Happy birthday, Princess,”ucapnya singkat, padat, dan jelas. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sesungguhnya aku tidak mengharapkan ucapan selamat darinya. Aku menutup pintu balkon dan membuat Sunggyu terkunci di dalam.

Kepalanya memberikan sinyal untuk mengambil bunga mawar di tangannya. Aku menerima buket mawar putih darinya. Tangannya lalu memencet sebuah tombol di tangannya dan balkon kamarku langsung bersinar terang.

“Majulah selangkah, Lee Harin-ssi,”perintah Hyunseung. Aku yang seakan dihipnotis olehnya, melangkah maju perlahan.

Kakiku baru saja menginjak langkah pertama saat tiba-tiba sebuah lingkaran cahaya mengelilingi kakiku. Detik berikutnya berbagai sinar dalam berbagai bentuk memukau mataku. Pertunjukan cahaya yang ditunjukkan Hyunseung mampu membuatku terpesona.

Terhitung sekitar 5 menit pertunjunjukan cahaya yang ditampilkan Hyunseung. Jujur aku terpesona dengan kejutan yang ditunjukkan Hyunseung. Aku sudah tahu bahwa Hyunseung ikut club semacam pertunjukan cahaya. Tetapi baru kali ini aku melihat pertunjukannya. Hyunseung tidak pernah mau walau aku paksa berkali-kali.

Setelah 5 menit, semua sinar itu menghilang. Meninggalkan aku dalam kegelapan balkonku.

“Harin, masuklah. Di sana gelap, pertunjukan sinar darinya sudah menghilang bersamaan dengan hilangnya pacarmu,”seru Sunggyu yang daritadi tidak bosan menggedor pintu balkon.

“Siapa bilang aku menghilang,”Hyunseung membuka suaranya tepat saat lingkaran cahaya muncul dari sisi terluar balkonku hingga ke depanku, terpusat kepada Hyunseung yang berdiri dan tersenyum. Aroma coklat meruak keluar dari tubuh tegap Hyunseung. Ia maju ke arahku dan mengelus rambutku.

Princess, Happy Birthday. Maaf, sepertinya aku sudah terlalu terlambat untuk mengucapkannya. Apalagi aku adalah kekasihmu, namun aku malah mengucapkan selamat yang paling akhir. Aku tahu aku salah. Aku terlalu punya banyak salah padamu. Aku terlalu cuek, dingin, kaku, tidak romantis, dan bukanlah kekasih yang baik untukmu. Berkali-kali aku merasa bersalah karena memilikimu. Berkali-kali aku khawatir kamu akan berpaling dariku. Maafkan aku, aku tidak dapat menunjukkan betapa besar aku menyayangimu dan rasa takutku untuk kehilangan dirimu. Aku berjanji akan menjadi lebih baik, walau mungkin akan memakan waktu yang lama. Kau mau menunggunya dan bersabar untukku?”ungkap Hyunseung. Ia terus menunduk selama mengungkapkan apa yang dia pikirkan. Sekilas aku bisa melihat bening air mata di pipinya.

“Hyunseungie, angkatlah kepalamu. Aku tidak bisa mencari kejujuran di matamu,”pintaku. Hyunseung menggeleng pelan.

“Aku tidak ingin kamu melihatku menangis. Aku malu,”aku terkekeh mendengar alasan Hyunseung. Aku memaksa Hyunseung untuk mendongak dengan tanganku. Kuarahkan wajahnya agar terangkat kemudian aku mengusap air matanya.

“Hei, apa salahnya jika seorang laki-laki menangis karena perempuan yang dia sayangi?”tanyaku. Aku menahan air mataku mati-matian agar tidak menangis. Aku benar-benar terpesona dengan apa yang diberikan Hyunseung padaku malam ini. Aku tidak tahu bahwa Hyunseung memiliki sisi yang seperti ini. Dan aku terpesona, sangat sangat terpesona.

Kami saling menatap mata. Membiarkan diri masing-masing tenggelam dalam pesona yang lain. Mungkin ada sekitar 10 menit kami hanya terdiam.

“Mau berdansa?”ajak Hyunseung memecah keheningan. Ia mengulurkan tangannya.

“Tanpa musik?”kekehku.

“Ayolah!”paksa Hyunseung sambil menarik tanganku. Aku tertawa riang, bersamaan dengan senyum bahagia yang terukir  di mulutnya. Kami berdansa tanpa musik selama kurang lebih 15 menit.

Lalu hening. Hyunseung memotong jarak di antara kami hingga 5 cm saja.

“Harin-a, kamu mau menungguku menjadi lebih baik?”tanya Hyunseung sambil mengelus ujung kepalaku. Aku tidak mampu menjawab apapun selain mengangguk.

Karena memang tidak ada alasan untuk menolak menunggu orang yang kamu sayangi berubah menjadi lebih baik, kan?

—–

8 years later,

“Harin-a, kamu sudah siap?”tanya Sunggyu. Ia masuk ke ruanganku saat aku sedang mengelus foto Papa yang telah berpulang 2 tahun yang lalu.

“Harin-a, mentang-mentang aku adalah satu-satunya keluargamu yang laki-laki yang bisa hadir hari ini, aku harus jadi walimu, nih! Huh, harusnya Daddy bisa pulang agar dia saja yang jadi wakilmu. Aku masih muda untuk menjadi seorang wali. Ayo, cepatan! Acaranya sudah mau dimul- Aduh!”jerit Sunggyu saat aku melempar bantal ke arahnya. Aku meletakkan frame foto Papa di meja rias lalu berjalan ke Sunggyu.

“Hyunseung beruntung memiliki perempuan yang tabah menunggunya. 7 tahun penantian itu lama sekali. Really, Hyunseung is lucky to have you. C’mon, he’s already waiting for you there!”Sunggyu menarik tanganku dan menggandengnya menuju altar. Sepanjang perjalanan, kau melihat berbagai hiasan bunga yang indah. Serta fotoku dan Hyunseung sebulan yang lalu dipajang cukup besar -dan membuatku malu.

“Siap?”tanya Sunggyu sebelum membuka pintu dimana di dalamnya Hyunseung sudah berdiri di depan altar. Aku mengangguk pelan, menahan rasa haruku. Sunggyu kemudian membuka pintunya dan mengantarku ke depan altar.

“Hyunseung-a, ini sepupuku. Sudah sana ucapkan ikrar kalian!”perintah Sunggyu sambil sedikit mendorongku.

“Kau siap?”tanya Hyunseung pelan. Aku hanya mampu mengangguk karena aku kehilangan kata-kataku saking terharunya.

Kini sudah 8 tahun berlalu. Sejak malam itu, Hyunseung membuktikan bahwa dirinya mampu berubah, walau memakan 7 tahun lamanya. Aku tidak paham apa yang menyebabkan begitu lama dia berubah menjadi lebih baik. Lalu 2 bulan yang lalu, di saat ulang tahunku, ia memberikan hadiah yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya.

Sebuah lamaran beserta pentas cahaya yang dia pentaskan sebelumnya. Bahkan pentas cahaya yang dia tampilkan lebih indah dari sebelumnya.

Dan berdirilah aku di sini sekarang. Di depan altar, mengucapkan janji suci bersama Hyunseung, si pemuda beku yang mau meleleh demi aku. Isn’t that sweet, right?

Dan tibalah aku untuk mengucapkan dua kata yang akan membuka lembaran baru hidupku bersama Hyunseung.

“I do.”

The End

.

.

.

.

hallo! Maaf nggak pernah update 😦 kurikulum 2013 menyesakkan jadwalku buat online wordpress 😦 BERAPA LAMA GUA GAK JADI ALPH WOI-__——-

Baru on twitter aja pas EunB-Rise meninggal………..

Gonna share a fanfiction about them (EunB and Rise)

Rest in peace 2 beauties, Go Eunbi and Kwon Risae

Advertisements

One thought on “[Fanfiction] Alphabet Series – I_ce Baby

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s