Silence #fanfiction

Silence

“I choose to love you in silence. Because in silence I find no rejection. And in silence no one owns you but me”- anonymous, 04/04/12

Kim Joohyeon (Buffy Mad Town) and Jeni (OC)

School-life, Fluff, Teen

alphastee

the story starts

Hai, aku Jeni. Aku adalah satu dari banyaknya siswi di SMA swasta di kotaku. Well, yang akan aku ceritakan ini adalah kisah nyataku.

Namun sebelumnya aku ingin bertanya.

Pernahkah kamu menyukai seniormu?

Ini pertama kalinya aku menyukai seniorku.

Aku serius. Ini pertama kalinya. Biasanya aku menyukai yang sepantaran. Harusnya aku menyukai Junhong, teman sekelasku yang tampannya overdosis. Atau anak kelas sebelah yang jago basket. Atau anak jurusan lain yang kudengar-dengar anak konglomerat.

Namun, yang kusuka adalah seniorku. Yang bahkan tidak pantas disama-samakan dengan 3 orang yang aku sebutkan tadi.

Hell, I’ve to admit it. But I fell in love with him.

—–

“Jen~ni!”aku nyaris terjungkal ke bawah saat temanku mengagetkanku. Aku sedang duduk di depan kelasku, yang kebetulan ada balkon yang cukup rendah untuk bisa diduduki. Tidak, bukannya sekolahku menyuruh muridnya bunuh diri dengan rendahnya balkon itu. Namun kelasku di lantai satu -mana mungkin orang loncat dari lantai 1 untuk bunuh diri.

OK, aku bisa saja tiba-tiba menemui ajal jika terjungkal ke bawah disaat ada motor yang melintas (kelasku bersebrangan dengan parkiran, lumayan untuk membolos).

Aku memukul temanku dengan handphone-ku -aku tipe perempuan yang tidak sayang barang, sepertinya. Temanku, Soomi, hanya tertawa sambil duduk di sebelahku. Ia menyodorkan minuman yang kupesan sebelumnya.

“Memperhatikan kak Joohyeon lagi?”uhuk. Aku tersedak es batu mendengar pertanyaan Soomi -syukurlah es batunya kecil.

Yeah, sebagai tetangga parkiran, bukan hanya kelasku yang merasakan. Ada 4 kelas yang harus menerima nasib mendengar raungan motor siswa-siswa yang membolos (biasanya anak jurusan teknik). 2 kelas X MIPA, dan sisanya kelas XI seni. Dan senior yang aku suka ada di salah satu kelas XI seni tersebut.

Namanya Joohyeon, Kim Joohyeon. Seorang laki-laki cuek yang menyukai hip hop dan selalu berlatih rap di depan pintu kelasnya. Seakan tidak ada tempat yang lebih bagus. Mungkin urat malunya sudah putus dan rusak.

Namun, kalau mengingat betapa cueknya ia, aku anggap dia masih memiliki malu walau satu per satu juta.

Sama seperti sekarang. Kelasku dan kelasnya hanya dipisahkan oleh satu ruang kelas. Jadi aku bisa memperhatikan dia tanpa ia tahu. Kira-kira sudah 5 bulan aku melakukan ini, jika aku tidak salah menandai di kalendar. Aku sampai hafal kebiasaan-kebiasaan dia.

Datang ke sekolah 3 menit sebelum bel.

Masuk ke kelas lalu baru keluar saat istirahat kedua.

Keluar kelas tepat saat bel pulang berbunyi.

Kalau ia tidak pakai jaket denim, maka ia akan memilih hoodie berwarna hitam.

Menobatkan tas laptop dengan merk ternama sebagai tas sekolahnya.

Kalau ke kantin, ia akan memilih kantin yang menjual jajanan pasar ketimbang kantin sebelah yang menjual makanan berat.

Ia akan memesan beberapa jajanan pasar (aku hitung kira-kira 2000 won) dan segelas teh dingin, lalu duduk di dekat jendela.

Dan itu semua hanya sebagian dari yang aku tahu tentang dia.

Hell, harusnya ada penghargaan untuk pengagum rahasia terbaik. Aku akan mengajukan diriku sebagai nominasi.

“Jeni-a, sampai kapan kamu memperhatikan kak Joohyeon-mu? Mulai dekati dia, dong!”usul Soomi. Aku menggeleng lemah sambil tersenyum tipis.

“Tipe Kak Joohyeon bukan aku. Kau tahu Kak Seolna dari kelasnya?”tanyaku. Soomi mengangguk. Tentu saja ia tahu, Kak Seolna adalah pacar dari gebetan Soomi.

“Seperti itulah tipe Kak Joohyeon,”lanjutku. Soomi langsung membalasku dengan tatapan tidak percaya.

“Tunggu, kakak yang centil seperti itu? Kau tahu dari mana?”tanya Soomi terburu-buru seakan dikejar kereta api ekspress.

“Mantannya di SMP juga seperti itu,”jawabku singkat. Soomi kemudian bertepuk tangan takjub.

“Waw, kau bahkan tahu mantannya, ya?”sahut Soomi. Aku hanya tersenyum tipis sambil kembali memperhatikan Kak Joohyeon.

—–

Bulan Februari.

Bunga-bunga sudah bersemi. Musim semi sudah tiba. Pohon-pohon di sebelah parkiran –which mean di depan kelasku tepat- memilih meniupkan bunga-bunganya di depan lorong kelasku. Mengotori sekaligus menghiasi lorong itu.

Hari ini hari bersih-bersih. Fyi, tiap bulan sekolahku memiliki satu hari untuk kerja bakti. Bulan ini, aku kebagian membersihkan lorong. Aku dengan tenang menyapu bunga-bunga yang gugur dari pohonnya.

“Jen! Kakakmu juga menyapu lorong tuh!”seru Soomi. Aku hanya menoleh sebentar kemudian kembali melanjutkan kegiatanku.

“Bukan urusanku,”sahutku.

“Hei, itu artinya kalian jodoh! Eh, omong-omong aku tidak pernah melihatmu memperhatikan Kak Joohyeon lagi. Kenapa? Pindah hati?”tanya Soomi antusias. Aku menggeleng lemah. Melihat aku yang sepertinya tidak ingin membahas Kak Joohyeon, Soomi memilih diam dan melanjutkan pekerjaannya.

Ya, benar. Sekitar sebulan ini aku tidak memperhatikan Kak Joohyeon. Bukan, bukan. Aku masih suka sama dia -bahkan tambah suka. Aku masih merasakan kupu-kupu salah terbang di perutku. Hanya saja aku memilih mundur. Bagaimana tidak? Aku dengar Kak Joohyeon dekat dengan Kak Seolna. Lebih baik aku mundur, toh Kak Seolna tipe idaman dia.

Selesai menyapu, aku dan teman-temanku mengumpulkannya dan membawanya ke tempat sampah. Kami sudah memasukkan bunga-bunga tersebut ke dalam plastik hitam (bayangkan, satu plastik isinya hanya bunga-bunga! Berat pula!). Kami berhom-pim-pa untuk menentukan siapa yang membawa bunga itu ke tempat sampah, dan sialnya aku yang harus membawanya.

Aku baru saja sukses mengangkatnya saat tiba-tiba seseorang menabrakku dan membuat bunga-bunga dalam plastik itu menghujani tubuhku. Aku menutup mataku, takut-takut ada serbuk bunga yang masuk ke mataku.

“Oh, maafkan aku, tadi aku terburu-buru,”deg. Aku memberanikan diri untuk membuka mata dan menatap siapa yang menabrakku.

Kak Joohyeon.

Sial sepertinya lagi mencintaiku hari ini. Sebelum aku sempat membalas perkataannya, serbuk bunga masuk ke mataku. Aku langsung panik mengucek mataku. Kurasakan tangan Kak Joohyeon membantuku berdiri kemudian memegang kedua tanganku untuk berhenti mengucek mataku.

“Kelilipan? Buka matamu!”aku menuruti perkataannya. Perlahan, Kak Joohyeon meniup mataku seperti yang biasa orang lakukan untuk menghilangkan kelilipan.

Aku yakin mukaku berubah merah sekarang.

Kak Joohyeon kemudian menepuk-nepuk rambutku, menghilangkan bunga-bunga di sana. “Maafkan aku, ya. Biar aku membantu kalian merapikan ini kembali,”ucapnya sambil mengambil sapu terdekat. Aku hanya terdiam menerima tindakan Kak Joohyeon. Aku terus memperhatikannya.

Ia sepertinya sadar sedang aku perhatikan, jadi dia menoleh ke arahku dan memberikanku senyuman.

Hell, hatiku berdetak keras sekarang.

—–

Aku mengutuk hujan hari ini.

Aku mengutuk mobil keluargaku yang lagi di bengkel sehingga tidak ada yang menjemputku.

Aku menatap jam tanganku. Sudah satu jam lebih aku di sini menunggu hujan reda. Aku harus menunggu hujan reda agar bisa berjalan ke halte bus. Dingin mulai menemaniku. Tubuhku menggigil, dan aku sendirian di sini. Teman-temanku sudah pulang semua 30 menit yang lalu. Dan di lorong yang panjang dan sepi ini, aku sendirian.

“Hei!”panggil seseorang. Aku menoleh dan menemukan Kak Joohyeon dengan jaket kulitnya berjalan ke arahku.

Aku yakin jaket kulit itu baru.

“Belum pulang?”tanyanya. Aku hanya mengangguk kaku. Tiba-tiba saja otakku tidak dapat memikirkan apa-apa.

Angin berhembus kencang, membuatku menggigil. Tanpa sinyal apapun, Kak Joohyeon melepas jaketnya dan memakaikannya kepadaku.

Aku tidak bisa protes. Lebih tepatnya tidak mampu.

Gawat, mukaku pasti memerah sekarang. Tolong jangan sekarang, kumohon.

“Jeni Park,”aku menoleh saat Kak Joohyeon menyebutkan nama lengkapku. Oke, itu bukan hal baru. Fyi, sejak kejadian bunga-bunga waktu itu, aku dan dia semakin dekat. Dia yang mendekatiku, bukan aku. Tidak dekat-dekat amat sih, hanya sebatas saling kenal.

“Dari semua perempuan yang pernah aku kenal, baru kamu saja yang terus menerus memperhatikan aku. Sejak 9 bulan yang lalu, kira-kira. Lalu 2 bulan ini tiba-tiba kamu tidak memperhatikan aku. Kenapa?”tanya Kak Joohyeon tanpa basa basi. Aku hanya mampu diam, memikirkan alasan terbaik yang bisa aku berikan.

Namun nampaknya Kak Joohyeon tidak membutuhkan jawaban apa-apa. Tiba-tiba saja ia membuat kami  berdua berhadap-hadapan.

“Aku merindukan perhatianmu itu. Biasanya saat aku latihan rap, ada yang memperhatikan aku. Namun sekarang tidak ada. Aku kira kamu membenciku, namun melihat tindakanmu saat insiden bunga-bunga itu,”Kak Joohyeon berhenti sebentar untuk menahan tawa mengingat insiden tersebut. “Aku yakin kamu masih mengagumiku, atau mungkin lebih. Karena itu, berikan perhatianmu untukku lagi seperti dulu. Hanya untukku, karena mulai sekarang kamu milikku.”

Aku hanya terbengong mendengar ucapan Kak Joohyeon. Sebelum aku sempat berfikir lebih, Kak Joohyeon sudah mendekatkan wajahnya.

“Jeni Park, if I say I love you, will you stop loving me in silence? Be mine,“ucap Kak Joohyeon sebelum bibirnya menciumku lembut.

Okay, muka. Kau boleh berubah merah sekarang.

Toh Kak Joohyeon sudah jadi milikmu, jadi sah-sah saja jika kamu memerah.

–end–

Advertisements

One thought on “Silence #fanfiction

  1. KYAAAAAAAAA…. DEMI HEOJUN YG GANTENGNYA SUPER.. KUCINTA BEUD INI FICT 😚😚😚😚😚 DEDEK KITA HARUS PERTAHANKAN MADTOWN BIAR MEMBAHANA 😂😂😂 BIAR DI GOOGLE BOT NGELIRIK KITA JADI TERPAMPANG #LOL 😂😂😂😂
    BUFFY PLIS JGN BIKIN GUE SENYAM-SENYUM 😬😬 KULELAH MELIHAT TAMPANGMU YANG SOK COOL (EMANG COOL BNERAN😭😭)
    POKOKNYA KUBAHAGIA BCA INI.. TITIK

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s