Cerita Tak Beralur

197

Cerita sesungguhnya dimulai dengan mudah. Sebuah kata ‘hai’ bisa memulai semuanya. Sebuah kata ‘hai’ akan menuntun kita menuju alur dan akhir. Semua orang memiliki cerita itu. Semua terjadi setelah kata ‘hai’.

Cerita sesungguhnya ditentukan oleh bagaimana respon kita. Bagaimana kata-kata kira terucap. Bagaimana tindakan kita. Bagaiman sikap kita. Semua hal kecil itu menentukan jalan akhir cerita. Entah itu kebahagiaan atau kesedihan. Kitalah yang menentukannya, karena kitalah tokoh utama, bukan orang lain

.15

Tapi kenapa. Kenapa cerita kita hanya dimulai dengan kata ‘hai’ tanpa kelanjutan alur yang jelas? Apa karena aku dan kamu hanya saling diam, menunggu respon dari masing-masing? Atau karena aku dan kamu tidak paham bagaimana memulai alur setelah kata ‘hai’? Atau  hanya aku yag berniat menciptakan alur yang bahkan tidak pernah ada? Apa menurutmu kata ‘hai’ adalah awal dan akhir cerita?

219

Aku bodoh. Mengharapkan sebuah cerita di atas alur kosong. Mengharapkan cerita dimana aku yang menghidupkannya seorang diri. Kamu hanya diam, menjadi pemanis di tiap-tiap kata yang tertulis.

Mengapa, mengapa aku tetap tidak dapat membebaskan namamu dalam ceritaku? Mengapa aku masih membutuhkanmu di setiap frasa yang tertulis? Mengapa aku maisih menunggu aksimu di cerita tak beralur ini?

135

Sebenarnya aku telah lelah menunggu. Kamu di sini hanya menambah luka di hatiku. Membuatnya pecah lagi dan lagi. Tapi tetap saja aku tidak bisa membiarkanmu pergi. Karena faktanya, aku masih menerima semua luka itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s