#Tant’sDaily of Then and Losing

Lagi pingin nostalgia sih, sama curhat dikit hwhw

PicsArt_1455453368866

Sebenarnya sih nggak bisa dibilang then gara-gara apa yang mau aku ceritain sekarang kadang-kadang /kadang-kadang yang mendekati sering wkwk/ masih aku rasain. But it’s almost a year /9-10 months, that’s almostafter the biggest losing on my 17 years of living. Bukannya ini aku lagi kumat atau kehabisan obat atau gimana sampai nekat mau buka luka dalam kaya’ gini. Beberapa minggu terakhir ini /dari sebelum ukk I think/ aku baru sadar, kenapa harus aku yang ngalamin semuanya.

Jadi, sebelum masuk ke ceritanya, aku mau cerita dikit dulu.

Well, kalau aku singkat siapa itu ‘dia’, he’s my everything -my savior, my bestie, my bae, my world…. /aku berani bilang dia savior karena dia emang pernah nyelamatin aku/.

Jadi, dulu aku korban bullying gitu. Bukan bullying yang ekstrim kaya’ disiksa atau dikurung atau gimana. Aku lebih kaya’ dibully secara batin; dikucilin. Ini kejadian pas aku SMP, dan pelopor pembullyan itu sendiri adalah orang-orang yang kukira ‘sahabat’. Aku kurang tahu alasannya apa, tiba-tiba aja mereka ngejauhin ngucilin aku gitu. Dan karena dulu aku masih sensitif, masih polos banget, jadi yaaa sakit banget. Makin sakit lagi pas aku dengar sendiri gimana mereka ngomongin aku di belakang. Jelek banget gitu ngomonginnya. Terus tiap aku ulang tahun gitu paling hanya yang anak-anak cowok yang kasih ucapan selamat /well, dulu aku dibully sama yang cewek-cewek sama beberapa anak cowok yang ngehits jadi deketku sama anak cowok yang geeks gitu/. Dua setengah tahunan gitu terus.

Masalah bullying ini pun berujung sama mentalku yang down, bikin nilaiku ikut down juga. Hal ini jelas bikin orang tuaku marah-marah dan berujung dengan pembanding-bandingan antara aku sama saudaraku. Ini makin bikin aku down, sampai percobaan bunuh diri bolak balik /more than 5/ //sampai sekarang pun kadang-kadang BHAKS//.

Pas aku ketemu ‘dia’, aku niatannya pingin  loncat. Udah benar-benar lost hope gitu. Dan pas aku mau terjun, ‘dia’ di sana, nolong aku dengan segala cara yang dia bisa. Dia bikin aku punya hope buat hidup. And after he came, I feel so much better.

Singkatnya, endingnya aku jadian sama dia sampai setahun. He makes me feel like I’m the only one for him, a feeling that I never felt before. Belum ada yang pernah memperlakukanku sebaik yang dia lakuin. And I loved him….err, I’m still love him tho.

Kukira semua akan baik-baik saja -aku, dia, kami. Nothing will turn as hellish as before. Lalu tragedi itu muncul. Suatu hari di bulan Oktober, dia tiba-tiba marah-marah, ngucapin semua kata-kata buruk dan hinaan yang sering aku dengar sebelum ketemu dia. Lalu dia pergi begitu saja tanpa memberikanku waktu untuk membela diri. Karena aku waktu itu udah nggak sesensitif dan sepolos dulu, aku malah marah ke dia. Semingguan aku marah ke dia. Marah karena dia yang marah-marah gak jelas, marah gara-gara dia ngilang gitu aja. Dikontak lewat apapun nggak bisa /dan sialnya aku nggak tahu rumahnya dimana. Dia yang datangin, bukan aku/.

Hingga setelah seminggu TEPAT, seorang laki-laki yang mengaku sahabatnya ‘dia’ ngabarin aku kalau ‘dia’ meninggal dalam kecelakaan, dan jasadnya belum ditemuin -sampai sekarang /eh atau udah cuman akunya yang nggak dikabarin’-‘/

/sfx shock/

Damn, that was the biggest hit I’ve had.

Bisa ketebak, aku langsung down sedown-downnya. I lost my world, my whole world; him. Aku sempat ngamuk gara-gara ini sampai keluarga bawa aku ke psikiater dekat SMA-ku. Aku didiagnosis depresi /waktu itu berat sih, terakhir ini udah ringan/, anxiety disorder berat, bipolar ringan, sama panic disorder ringan. Sebenarnya bisa nggak sebanyak itu, kalau aja dari awal aku down di SMP udah ditreat. Akhirnya selama 9 bulan terakhir ini aku sering ke psikiaterku. Alhamdulillahnya, mental disorder yang ringan-ringan udah bisa diabaikan. Yang depresi sama  anxiety disorder udah ringan gitu, 6 bulanan /soalnya aku sadar bikin rumahku banyak barang yang hancur gitu HAHA/. Sekarang masih harus check up sesekali buat ngontrol.

Semua kejadian itu ninggalin efek yang besar. Aku jadi orang yang cuek parah, semacam Suga gitu /I don’t give a shit/. And I’m happy with how myself right now, karena aku jadi dapat kemampuan buat nilai orang gitu dari pertama kali lihat aja /gatau dapatnya darimana, tiba-tiba muncul saja’-‘/

Meski sampai sekarang aku masih rindu dia, but I’m happy because of losing him, I could learn how to be better ❤

p.s : I miss him right now HAHA

Love,

alphastee

Advertisements
Posted in log

One thought on “#Tant’sDaily of Then and Losing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s